Thursday, April 30, 2026
Home > Kupas > Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Proyek penulisan puisi esai nasional Denny J.A. (DJA) jilid II melibatkan berbagai penulis dari 34 provinsi se-Indonesia. Dalam satu buku puisi esai, terdiri atas lima penulis yang mewakili setiap provinsi, yang akan diterbitkan secara serentak di Indonesia. Masing-masing penulis mendapatkan kontribusi sebesar Rp5 juta. Namun akhir-akhir ini, proyek penulisan tersebut menimbulkan polemik baru dalam sastra Indonesia. Tiba-tiba saja muncul berbagai penolakan puisi esai dari banyak komunitas. Di antara pro dan kontra puisi esai, sebagian penulis puisi esai adalah penyair perempuan. Di lain pihak, ada juga beberapa penyair perempuan yang mengundurkan diri.

Mengapa puisi esai menimbulkan berbagai polemik? Bagaimana isu perempuan dalam puisi esai? Simak hasil wawancara puan.co bersama Dellorie Ahada Nakatama, Fatin Hamama R. Syam, Rukmi Wisnu Wardani, dan Waode Nur Iman berikut ini!

 

Dellorie, Penyair yang Mengundurkan Diri dari Puisi Esai

Setelah viral nama beberapa penyair perempuan yang mengundurkan diri dari proyek puisi esai, tim redaksi puan.co mencoba menghubungi Ayu Harahap (sumut) dan Dellorie Ahada Nakatama (Sumbar). Melalui pesan facebook-nya pada Kamis (18/01), Ayu Harahap menuliskan, “ Maaf Mbak. Ayu sedang tak mau terlibat lagi untuk urusan apa pun mengenai ini. Terima kasih.”

Penelusuran pun dilanjutkan kepada penyair perempuan asal Aceh yang namanya tercatat sebagai penulis puisi esai – D. Kemalawati. Melalui pesan Whatsapp (WA), D. Kemalawati membalas, “Tidak usah dulu ya! Saya sedang konsentrasi dengan pekerjaan.”

Lalu, dilanjutkan ke Dellorie Ahada Nakatama. Perempuan asal Sumbar yang sehari-hari bekerja sebagai staff di sekretariat DPRD Kabupaten Lima puluh Kota ini mengakui bahwa pengunduran dirinya bukan atas intervensi berbagai pihak, namun lahir dari kesadaran dirinya.

Awalnya, Dellorie tak pernah tahu apa itu puisi esai. Saat di perjalanan menuju acara HPI di Bukittinggi, ia menerima sebuah tawaran dari koordinator puisi esai Sumbar – Muhammad Ibrahim Ilyas – melalui telepon genggamnya. Dellorie mengiyakan tawaran tersebut dengan penuh keraguan. Dikirimlah beberapa contoh puisi esai melalui WA untuk dipelajari selama satu minggu.

“Esok paginya, saya juga belum memberi kabar karena belum ngeh sampai akhirnya saya ditelpon lagi. Saat penelponan kedua, saya menolak ikut karena waktunya mepet. Selain itu, saya juga sibuk kerja. Setelah melihat nama-nama besar di proyek penulisan itu, saya berpikir dalam hati bahwa saya takut nantinya,  jika karya saya tidak sesuai, saya akan membikin malu koordinator provinsi. Namun, Om Bram bilang saya bisa dan pasti bisa. Karena saya sudah menganggap Om Bram seperti orang tua sendiri, akhirnya saya iyakan tanpa tahu lebih dalam apa itu puisi esai DJA,” kata Dellorie pada Kamis (18/01).

Translate »