Menurut FH, perbuatan bully, melecehkan, menista, dan persekusi itu sudah diatur dalam undang-undang. Yang suka melakukan persekusi adalah mereka yang kehilangan bahasa batin. Sementara bahasa batin adalah bahasa ibu yang disampaikan kepada anaknya.
“Ketika ada yang berkomentar kasar ke saya, saya tidak akan membalasnya dengan caci maki sebab saya menghindari perdebatan. Siapa pun yang berkarya, saya akan mendukung. Saya juga akan menghargai setiap karya karena kita berkarya dijamin undang-undang. Sebab kita punya kemerdekaan untuk bekarya.
Fatin hanya berharap bila ada yang melakukan kesalahan, jangan langsung menghakimi. Kita harusnya saling membina, bukan membinasakan. Hingga saat ini, FH sudah bersedia berbicara dengan teman-teman di ruang terbuka.
Berbeda pula dengan Sri Asih, penulis lima belas buku asal Pasuruan Jawa Timur. Dirinya mengaku sempat sangat ingin mengikuti lomba puisi esai yang berhadiah Rp5 juta. Namun sayang, penulis paruh baya ini tidak sempat mengikuti karena waktunya bersamaan dengan ibadah haji.
“Proyeknya tentu tertarik sebab uang hadiahnya bisa digunakan untuk membeli laptop. Bagi saya, penulis memiliki kebebasan untuk berkreasi, berimajinasi, serta menuangkan ide dan suara hati, termasuk DJA dan polemik yang berkembang,” ucapnya pada Jumat (19/1).
Puisi Esai Bukan Genre Baru
Rukmi Wisnu Wardani adalah penyair kelahiran Jakarta, yang telah menulis puisi sejak tahun 2000-an. Di tahun-tahun itu, modem masih bermusuhan dengan CPU. Rukmi pun mesti mencolokkan kabel telepon supaya bisa terhubung ke dunia maya. Plus mesti sabar kalau tiba-tiba koneksinya terputus.
Karena menyukai dunia tulis-menulis, alumnus Universitas Trisakti ini mengikuti beberapa milis di era itu, seperti Puisi Kita, Sastra Sufi, Sastra Malaysia, milis Bunga Matahari, dan beberapa lainnya. Ia dulu paling aktif di milis Penyair, yang kemudian bersama teman-teman membikin Yayasan Multimedia Sastra. Di kemudian hari, nama milis Penyair berganti menjadi Cybersastra.

Sebagai penulis perempuan, sumbangsih Rukmi terhadap sastra Indonesia yang paling terpenting adalah sedapat mungkin ikut peduli sekaligus ikut menjaganya. Minimal tidak merusak dan tidak merendahkan ranah keilmuan sastra itu sendiri.
Ketika ditanya polemik sastra Indonesia tentang puisi esai, kata Rukmi pada Sabtu (20/01), “Saya merasa sedih, kesal, marah, dan ikut prihatin. Semestinya, polemik itu tidak berkepanjangan. Namun, ketika ada seseorang dan/atau sekelompok orang yang dengan sengaja melakukan upaya sewenang-wenang: melangkahi ranah bidang keilmuan sastra yang tidak membawa manfaat bagi sastra Indonesia, apalagi sampai diamini oleh beberapa lingkaran, yang semata-mata demi popularitas, kekuasaan, ketenaran, serta terbukti melakukan penyesatan dan pembodohan terhadap publik, sekaligus terbukti memanipulasi sejarah dunia sastra Indonesia, tentu harus diingatkan dan diedukasi. Lebih memprihatinkan lagi, justru adanya sederet nama sastrawan yang dianggap senior malah berpendapat bahwa kedudukan puisi esai di Indonesia menawarkan sebuah kemungkinan yang baru.”
