Rukmi menambahkan “Menurut saya puisi esai itu seperti cerita biasa saja. Padahal, jika dicermati kembali apa itu puisi esai lewat tulisan Saut Situmorang yang berjudul “Adakah Puisi dan Esai dalam Puisi Esai DJA?” jelas kok di sana dijabarkan. Singkatnya, puisi esai merupakan gabungan dua genre sastra, yaitu puisi dan esai. Dengan catatan, bentuknya puisi, tetapi isinya esai. Esai sendiri harus analitis, interpretatif, dan kritis tentang suatu topik. Baca juga status facebook Ahmad Yulden Erwin di media sosial yang menyentil perkataan DJA, termasuk para pengikutnya, yakni dikatakan bahwa inti puisi esai karena adanya catatan kaki! Padahal, catatan kaki adalah adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, menjelaskan sumber kutipan, atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan (bibliografi).”
Melihat ramainya publik sastra yang menandatangani petisi, sampai muncul pula beberapa gerakan penolakan puisi esai, Rukmi menganalogikan kisah ini dengan seorang dokter. Lalu, tiba-tiba muncul orang yang tidak pernah menimba bidang kedokteran apalagi formal, lantas mengaku sebagai dokter. Namun oleh sebagian kelompok kecil, ia dibenarkan sebagai seorang dokter. Inilah yang sekarang terjadi di sastra Indonesia. Ini yang menimbulkan gerakan penolakan puisi esai.
“Menurut saya, perihal puisi esai itu sudah bukan dalam kategori mengotori, tetapi sudah masuk ke dalam bentuk upaya pembodohan karena berisi kebohongan kepada publik, termasuk memanipulasi sejarah sekaligus merusak bidang keilmuan sastra itu sendiri. Mirisnya, hal itu dikunyah oleh para penulis muda di berbagai daerah. Oleh sebab itu, hal-hal yang dapat mencederai mereka di kemudian hari harus dikabarkan secara meluas dan dihentikan!” ungkap penyair perempuan yang puisi-puisinya telah dimuat di berbagai antologiini.
Rukmi menambahkan bahwa puisi esai bukanlah genre baru. Hal ini sudah diulas oleh para sastrawan yang memang mumpuni dan sudah meneliti dengan saksama berdasarkan keilmuan yang ada. Bukan sekadar asal-asalan. Ada hal yang sebenarnya membikin lucu dalam upaya pembodohan itu. Coba perhatikan! Segala bentuk yang ada sangkut pautnya dengan puisi esai tak pernah lepas dari unsur uang yang selalu menjadi bayang-bayangnya. Ahda Imran adalah satu di antara sekian banyak penyair yang meneriakkan hal itu. Dengan kondisi ini, jelas kelihatan perbedaannya, seseorang yang memang memiliki nama besar karena kualitas karyanya dan orang yang menginginkan namanya besar dengan memakai pengaruh uangnya.
