Thursday, April 30, 2026
Home > Kupas > Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

“Melalui facebook, beragam tulisan maupun status tak henti bermunculan seputar kabar tentang banyaknya para penulis (terutama penulis muda), yang diminta menulis puisi esai berdasarkan pesanan dengan jumlah honor yang menggiurkan. Bagi yang mungkin minim informasi tentang gagalnya genre itu, ‘kan kasihan. Di satu sisi, ia tidak tahu bahwa dirinya sedang dibohongi, sementara di sisi lain ada besaran nilai uang yang menunggu untuk dimiliki jika mau ikutan proyek puisi esai,” ungkap penyair perempuan yang kontra terhadap puisi esai.

Rukmi mengaku pernah punya pengalaman terkait puisi esai sekitar tahun 2013. Waktu itu, beberapa penulis termasuk Rukmi sempat dihubungi oleh Fatin Hamama R. Syam (FH). Dia meminta kesediaan Rukmi dan beberapa teman untuk menulis puisi esai. Honornya Rp3 juta. Rukmi ingat ketika itu bertepatan dengan keberadaan ibunya yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Di antara perhatian yang saya dan keluarga curahkan kepada ibu, dengan adanya tambahan dari honor itu (jika saya menulis pesanan puisi esai itu), saya bisa ikut membantu keperluan ibu, juga kebutuhan rumah tangga kami, maka saya mencoba untuk menulis. Namun permintaan itu tak pernah bisa terealisasi, sebab selain menurutku puisi esai DJA itu ganjil karena harus ada catatan kaki, saat itu saya memang sudah berusaha menulis, tetapi gagal untuk dituliskan. Saya sempat mebolak-balikkan halaman buku puisi esai Atas Nama Cinta-nya DJA, tetapi tetap saja saya tidak bisa menuliskannya. Selang beberapa waktu kemudian, ibu meninggal dunia,” tutur Rukmi.

Ketika waktu deadline sudah semakin mepet, Rukmi masih mencoba menulis puisi esai di masa berkabung yang masih sangat kental itu. Anehnya, komputernya mendadak rusak. Tiba-tiba tidak  mau menyala. Sempat pula Rukmi meminjam komputer adiknya. Hasilnya sama: komputernya tiba-tiba rusak juga. Menyala sebentar, kemudian  mati lagi. Terus begitu berulang-ulang. Sampai akhirnya tidak bisa menyala sama sekali.

Yang lebih unik lagi dalam masa berkabung itu, Rukmi secara tidak sengaja sempat berbincang dengan seseorang tentang dua komputernya yang mendadak rusak. Seseorang itu berujar bahwa Rukmi sedang tidak diizinkan menulis, kecuali memperbanyak ibadah serta mendoakan kedua orang tua, terutama ibunya yang baru saja meninggal. Mendengar nasihat itu, Rukmi kaget luar biasa.

“Singkat cerita, saya batal menulis puisi esai dan mengabarkannya kepada FH karena faktanya memang tak satu kata pun tertulis. Tak lama setelah itu, saya kaget saat mendengar gonjang-ganjing seputar polemik buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh plus buku 23 penyair yang diminta menulis puisi esai itu.  Sungguh, saya sedih mengingat hal itu, terlebih saat membaca nama seorang kawan  sejak zaman Cybersastra, yaitu Sihar Ramses Simatupang (SRS). Ia berjuang menarik tulisannya di dalam buku 23 penulis puisi esai pesanan itu. Hingga saat itu, saya terus mengikuti kabar susah payahnya ia mengumpulkan uang untuk sesegera mungkin mengembalikan Rp3 juta yang sudah diterimanya dan sudah terpakai untuk kebutuhan hidupnya sekeluarga,” ucap Rukmi.

Translate »