Di tengah kesibukannya, Dellorie menyempatkan diri menulis puisi esai. Ia menulis tentang ibu tua – yang terpaksa mengemis demi bertahan hidup – pada dasarnya, hal ini sangat bertentangan dengan kodrat perempuan minang, yang sering digaungkan bahwa perempuan minang memiliki kuasa tertinggi di dalam rumah gadang, termasuk pembagian harta di kaumnya.
Setelah deadline tiba, Dellorie mengirimkan sinopsis puisi esai ke panitia. Beberapa hari kemudian, ia menerima buku puisi esai DJA, uang pangkal sebesar Rp1 juta, serta surat perjanjian kontrak penulisan puisi esai. Dellorie baru mengetahui bahwa ia akan dibayar Rp5 juta.
Dari awal mendapat tawaran menulis puisi esai, Dellorie memang belum tahu latar belakang DJA meski sering melihat namanya muncul di beranda facebook.
“Karena sejatinya dari awal, saya sudah tak menyukai puisi esai yang baru saya kenal. Walaupun jujur, bagi saya menulis puisi esai itu gampang. Tinggal mencari bahan yang mau ditulis, membuat bahasa seindah mungkin, kemudian dibuat dalam versi panjang sepanjang-panjangnya dengan mencari kata yang perlu dibubuhi catatan kaki. Bisa dibilang, pengunduran diri ini murni atas keinginan pribadi, terlepas saya pasti menjaga nama-nama yang saya kenal baik di dunia kesusastraan,” ucapnya.
Dellorie menambahkan bahwa ia sama sekali tidak menyesal atas pengunduran dirinya, dalam artian ia sekaligus akan kehilangan uang Rp5 juta. “Buat apa uang Rp5 juta, tetapi batin menolak dan menanggung malu sepanjang hidup karena pernah terlibat politik sastra,” tambahnya.
Penolakan batin Dellorie muncul sejak ia membaca status facebook Malkan Junaidi. Dalam statusnya, Malkan menuliskan bahwa ia akan menendang teman-teman yang ketahuan mengikuti proyek DJA. Puncaknya, setelah ia gabung di grup WA Kedai Penyair Muda Indonesia. Dari sana, ia mempelajari dan menimbang-nimbang dengan sangat lama, hingga akhirnya menyimpulkan bahwa ia harus bercerita kepada seniornya, yakni Iyut Fitra atau yang akrab disapa Kuyut.
“Di malam sebelum saya menemui Kuyut, ternyata ia telah menelusuri nama-nama penulis puisi esai asal Sumbar. Kuyut sangat kaget ada nama saya karena saya adalah salah satu anggotanya di Komunitas Tanah Rawa. Lalu Kuyut menelpon Heru Joni Putra (HJP). Otomatis, awalnya mereka kecewa karena mereka tahu bahwa saya memang tidak tahu banyak tentang polemik sastra Indonesia masa kini. Di malam saya bertemu Kuyut dan HJP, saya diberi pengarahan hingga pukul 03.00 dini hari. Saya menyesal tidak bertanya kepada Kuyut sebelum akhirnya saya menyetujui tawaran menulis puisi esai. Selain Kuyut dan HJP, Esha Tegar, dan teman penyair lainnya juga membantu mengarahkan saya,” ungkapnya.
