Thursday, May 6, 2021
Home > Kupas > Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi: Para Nomine Kusala Sastra Khatulistiwa 2017

Penyair Tiga Generasi

SEBELUM melangkahkan kaki ke ibukota, saya menghubungi tiga nomine Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2017. Dua di antaranya kebetulan akan menghadiri acara serupa dengan saya, yakni Deddy Arsya dan Hasta Indriyana. KSK adalah ajang penghargaan bergengsi untuk sastrawan Indonesia yang didirikan oleh Richard Oh dan Takeshi Ichiki. Ajang ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2001. KSK, dulunya bernama Khatulistiwa Literary Award (KLA). Pemenang utamanya akan mendapat hadiah seratus juta rupiah.

Tersebab saya tiba lebih awal di Jakarta sebelum acara Gerakan Literasi Nasional 5-7 Oktober 2017, malam itu saya menonton perhelatan akbar malam anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 di gedung Graha Bhakti Budaya TIM, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Tepat pukul 21.35 WIB, seorang penulis muda berbakat kelahiran 1990 mengabarkan bahwa ia baru saja selesai rapat di IKJ dan sekarang telah berada di sebuah kantin di TIM. Saya pun bergegas meninggalkan ruangan dan menuju penulis muda berbakat itu, Heru Joni Putra (HJP).

Formula Badrul Mustafa

HJP yang ketika itu berada satu meja dengan Pinto Anugerah, Fariq Alfaruqi, Iyut Fitra, dan teman-teman penulis asal Sumbar, terpaksa saya gondol ke meja sebelah. Kami pun berbincang-bincang mengenai Badrul Mustafa. Di tahun 2017 ini, buku puisi HJP yang berjudul Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa masuk lima besar KSK dalam dua nominasi sekaligus, yakni kategori puisi dan kategori karya pertama atau kedua. Mengapa Badrul Mustafa? HJP mengatakan bahwa Badrul Mustafa merupakan tokoh fiksi yang menjadi fokus penceritaan, tetapi ia tidak sepenuhnya sebagai nama tokoh, ia juga menjadi perumpamaan, menjadi kata ganti, dan lain sebagainya. Dalam buku puisinya, HJP menggabungkan bentuk puisi dan prosa.

Facebook Comments