Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Masa Lalu Blambangan

Masa Lalu Blambangan

Hari Perempuan Internasional memang sudah lewat. Namun, bukan berarti pembahasan tentang perempuan sudah tamat. Setiap hari ia hadir dalam pikiran, menyandera perhatian hingga terkadang membuat orang terperangah. Nusantara sebenarnya tidak hanya punya Kartini sebagai tokoh emansipasi. Bukankah di zaman klasik bangsa ini pernah mempunyai sederetan pemimpin perempuan?

Mungkin kita lupa bahwa Blambangan pernah dipimpin oleh dua orang perempuan. Hal tersebut dijelaskan dalam Nāgarakṛtagāma ada Nāgarawarddhanī, yakni yang bergelar Pāduka Bhaṭṭāra Wīrabhūmi. Selain itu, prasasti Waringin Pitu (1447 M) juga menyebut seorang tokoh perempuan bernama Pureśwarī Rajāśawarddhanendudewī sebagai penguasa daerah Wīrabhūmi. Pada masa Majapahit seorang penguasa kerajaan daerah disebut Pāduka Bhaṭṭāra yang posisinya berada di bawah raja. Raja-raja daerah tersebut biasanya dijabat oleh anak dan sanak-saudara raja yang berkuasa.

Memang, sejauh ini data arkeologi dari masa klasik (Hindu-Buddha) mengonfirmasi Blambangan mulai disebut ketika Jayanagara berkuasa di Majapahit (1309-1328 M). Namun ada pertanyaan lagi yang perlu dijawab, yaitu sampai tahun berapa kerajaan tersebut eksis? Jika kita berpatokan pada prasasti, Blambangan terakhir disebut dalam prasasti Waringin Pitu. Setelah itu, belum ada prasasti yang menyinggung tentang Blambangan atau Wīrabhūmi.

Masih ada juga jawaban alternatif, yaitu surat Kartini. Dalam suratnya kepada Nona E.H. Jeehandelaar tanggal 6 November 1899, ia menyebut bahwa Blambangan diperintah oleh seorang bupati. Jabatan bupati ini sebenarnya berasal dari istilah bahasa Sanskerta, yaitu Bhūpa atau Bhūpāla (pelindung dunia). Dengan demikian, ujung timur Jawa pada abad ke-19 M masih bernama Blambangan.

Menuju Masa Lalu

Banyak jalan yang bisa ditempuh orang untuk tahu bagaimana masa lalu. Ini bukan perkara seberapa banyak materi sejarah yang sudah dihafal. Namun, pokok bahasannya terletak pada maukah orang sedikit beringsut dari pandangannya selama ini tentang masa lalu? Orang mengenal Blambangan dari keseruan cerita Menak Jingga. Heroisme Mas Ayu Wiwit saat melawan Kompeni Belanda. Atau, kagum dengan kesetiaan yang ditunjukkan oleh Sri Tanjung dan para istri Prabu Tawang Alun.

Facebook Comments