Thursday, April 30, 2026
Home > Kupas > Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Antara Penyair Perempuan dan Puisi esai

Wa Ode Nur Iman mengenal puisi esai dari terbitnya buku 33 Tokoh sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disertai polemik.

“Wajar saja. Secara, tokoh DJA baru dalam dunia sastra Indonesia. Namun saya pikir, ini bukan alasan untuk tidak belajar membaca kemudian menerima esensi puisi esai. Saya ragu terhadap teman-teman yang kontra. Jangan-jangan  mereka sebenarnya bukan membenci puisi esainya, tetapi membenci DJA. Mereka cemburu karena DJA mampu menggandeng penulis-penulis dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Sementara kelompok yang kontra, hanya mampu melakukan gerakan serupa kecuali ada sponsor dari pihak-pihak terkait. Seandainya puisi esai lahir dari tokoh yang lain, kira-kira bagaimana yah respons penerimaan mereka? Awalnya, saya menemukan salah satu edisi jurnal sajak yang memuat puisi DJA. Kemudian mendapat tawaran menulis puisi esai,” ungkap ketua Rumah Andakara di bidang kajian seni, sastra, dan budaya ini.

Sementara tanggapan Waode Nur Iman terkait beberapa teman yang mengundurkan diri dari proyek penulisan puisi esai, yakni “Mengapa mundur? Kamu menyesal menulis puisi esai? Memangnya apa yang kamu tulis? Hujatan terhadap orang lain (kalau benar, wajar kamu mundur)? Atau jangan-jangan karena di-bully atau merasa diasingkan oleh kelompok lain? Kelompok yang mana? Mengapa tidak menulis saja secara merdeka? Bukankah semua yang lahir adalah pemenang? Maka tidak ada alasan untuk tidak merdeka.”

Salah satu alasan Waode Nur Iman menulis puisi esai, yakni menuangkan gagasan dalam puisi secara bebas dan ilmiah melalui riset. Sementara komentar Waode terhadap teman-teman yang pro puisi esai, yakni “Kita tidak sedang membangun kelompok-kelompok. Kita sedang melakukan gerakan menulis, yang jenis tulisannya sama. Maka mari kuatkan isi tulisan kita tanpa memusuhi mereka yang kontra!”

Translate »