“Lah, wong sudah ada penjelasan dari para sastrawan kok, yang menulis model seperti itu sudah pernah ditulis oleh Alexander Pope, penulis asal Inggris pada abad ke-18. Bukan hanya satu sastrawan loh yang mengatakan hal itu. Kita mesti banyak belajar dari tulisan para sastrawan karena mereka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi integritas. Sangat kecil kemungkinan, mereka melakukan akal-akalan dalam menulis esai, kritik, dll. Nama baik mereka dipertaruhkan di sana,” ungkap Rukmi.
Sejak Rukmi mengikuti berita hangat seputar polemik sastra Indonesia yang terjadi (lagi) belakangan ini, ia sadar bahwa menulis itu tidak mudah. Ada pakemnya, ada aturan-aturannya, dan hukum-hukumnya. Buktinya simpel. Adanya fakultas sastra yang berdiri dan tersebar di seluruh dunia menunjukkan bahwa sastra itu salah satu bidang keilmuan. Bukan ranah tempat orang asyik mengkhayal belaka, menuliskan hasil khayalannya, lalu serta-merta mengecap dirinya sebagai penyair, sastrawan, ataupun tokoh sastra paling berpengaruh. Terlebih lagi kalau ada unsur uang yang bermain di balik itu semua.
Jejak Sunyi Waode Nur Iman di Masjid Muna
Nama Waode Nur Iman tercatat sebagai salah satu penyair perempuan, yang turut menulis puisi esai asal Sulawesi Tenggara. Perempuan yang lahir di Oelongko, 22 Agustus 1984 ini, sehari-harinya beraktivitas sebagai penyira berita di TVRI Sultra. Sajak-sajak yang ia tulis pernah dipublikasikan di berbagai koran lokal.
“Puisi esai menurut saya sesuatu yang menarik. Penulis lebih leluasa dalam mengekspresikan pikirannya. Dalam puisi pada umumnya, penulis terbatas dalam menjelaskan detail maksud yang ingin disampaikan. Penulis dimanjakan catatan kaki. Ini menarik sekali,” ungkap perempuan alumnus Sastra Indonesia FIB Universitas Halu Oleo.

Waode mengatakan bahwa dirinya menulis puisi esai berjudul “Jejak Sunyi Masjid Muna”. Masjid ini berada di Pulau Muna, Sultra, sebagai penanda sejarah awal mula masuknya Islam di Muna, yakni sekitar tahun 1600-an. Pada saat itu, Islam belumlah menjadi agama resmi. Pada tahun 1716, Islam baru menjadi agama resmi kerajaan. Saat ini, Masjid Muna tidak difungsikan secara maksimal oleh masyarakat Muna sendiri.
Meski banyak yang kontra terhadap puisi esai, kata Waode melalui pesan WA pada Senin (22/01), “Yang membuat kita kaya adalah perbedaan. Secara pribadi, saya tidak mau ambil pusing. Bagaimanapun bentuknya, berkarya itu hak setiap orang selama penulis tidak mengganggu kebahagiaan dan kenyamanan orang lain, selanjutnya tugas pembaca adalah menilai kualitasnya. Saran saya kepada yang kontra: tolong baca dulu karyanya! Nanti setelah itu baru menghujat kalaupun memang harus menghujat. Saya khawatir, jangan-jangan belum tahu isi puisi esai yang dimaksud. Mohon bijaklah!”
