Lalu Dellorie membuat surat pengunduran dirinya di atas meterai. Surat itu kemudian ia kirimkan ke Fatin Hamama – koordinator puisi esai Indonesia bagian barat – melalui WA. Kuyut dan beberapa teman-teman Sumbar akhirnya yakin bahwa Dellorie benar-benar telah membatalkan kontrak. Sebab ia tak menerima sisa Rp4 juta yang dijanjikan. Sementara dalam perjanjian, setelah puisi esai selesai dikirim ke panitia, sang penulis akan menerima uang pelunasan yang dijanjikan. Dellorie kemudian hendak mengembalikan uang pangkal Rp1 juta yang telah ia terima.
“Pengembalian uang ini awalnya dipersulit. Dari Om Bram dilempar ke Fatin, dari Fatin dilempar ke Om Bram, Om Bram kemudian melempar ke Fatin lagi. Akhirnya, Kuyut menelpon Om Bram. Dari situlah, Om Bram mau menerima pengembalian uang pangkal dan disetujui Fatin Hamama,” kata Dellorie.
Dellorie menambahkan jika memang puisinya kelak tetap dimuat di buku puisi esai Sumbar, dirinya pasti akan menuntut. “Sebab saya sudah bikin pernyataan pengunduran diri sebelum dikirim uang pelunasan sebesar Rp4 juta dan saya jug telah mengembalikan yang Rp1 juta,” kata Dellorie.
Menurut Dellorie, idealnya kerja di dalam sastra sebagai profesi adalah yang memang berjuang di dalamnya. Yang setiap karya butuh proses dan diseleksi lalu dinyatakan menang sehingga mendapatkan fee. Misalnya saja saat mengirimkan tulisan di media, di sana ada sistem seleksi.
“Kalau proyek DJA ini memang orang-orang pilihan dan lurus-lurus saja, saya yakin, saya bukanlah orang yang tepat untuk dipilih. Sebab Payakumbuh adalah gudangnya para penyair. Tentu mereka banyak pilihan untuk menghubungi yang lebih senior dan lebih punya nama. Dari sini, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang ganjil,” ungkap Dellorie. Kini, nama Dellorie Ahada Nakatama tercatat sebagai salah satu publik sastra yang menandatangani petisi penolakan puisi esai yang digagas oleh penyair muda Indonesia.
Isu Perempuan dalam Puisi Esai
Puisi esai di mata Fatin Hamama R. Syam (FH) sama pentingnya dengan puisi-puisi konvensional di Indonesia. Bedanya, puisi esai lebih mengangkat isu-isu sosial yang selama ini belum banyak diangkat ke dalam puisi, juga ada unsur ilmiah dan riset. Sebab masalah-masalah sosial di Indonesia saat ini sangat kaya dan beragam.
Bila biasanya banyak yang bosan membaca data saja, kini data itu diolah ke dalam puisi agar bisa lebih menarik di mata pembaca. Puisi esai menurut FH adalah perpaduan antara fakta dan fiksi.

“Semuanya tergantung niat dan sudut pandang. Bila kita menyikapinya dengan positif untuk membangun kebudayaan, memberikan kontribusi, dan mencari kemaslahatan untuk Indonesia, semuanya akan menjadi baik,” ungkapnya via telepon pada Jumat (19/01).
