Monday, May 10, 2021
Home > Kupas > Balada Seorang Janda

Balada Seorang Janda

“Dalam setahun, bisa dua kali banjir,” ujar Juminem (38)  dengan raut wajah  kecewa. Ia terpaksa panen lebih awal karena banjir selama sepekan telah merendam batang padi miliknya  di kawasan Desa Rawasari Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Tajung timur, Provinsi Jambi. Bagi Juminem dan warga Rawasari, sudah awam jika kawasan Ulu tidak kuat menampung air hujan yang turun ke Sungai Batanghari, yang menjadi  penyebab banjir terus berulang.

Dengan mengandalkan  sebuah sabit,  Juminem memotong  ujung batang padi  yang  mulai membusuk. Dari garapan lahan seluas satu hektare, ia hanya mampu menghasilkan enam karung gabah. Hasil ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan hasil panen  enam tahun lalu yang mencapai tiga belas karung gabah.

Meski sering mengalami gagal panen, janda dua anak ini tidak tergiur untuk mengalihfungsikan lahannya menjadi sawit, seperti yang dilakukan oleh tetangganya. Bertahan menanam padi merupakan strategi Juminem untuk tetap memastikan kesediaan pangan bagi kedua anaknya tanpa harus membeli beras.

Semenjak suaminya meninggal tujuh tahun lalu, Juminem mencari nafkah dengan ikut bekerja upahan  dari tetangganya. Ia pun membantu saat mulai menanam, merawat, hingga panen padi tiba. Biasanya, ia mendapatkan  upah sekitar Rp40 ribu per hari dengan waktu kerja sekitar 10 – 15 hari.

Terkadang Juminem  sama sekali tidak mendapat kesempatan bekerja dalam 1–2 bulan,  terutama saat banjir bersamaan dengan musim panceklik. Ia pun terpaksa berhutang kepada tetangga untuk kebutuhan sekolah kedua anak perempuannya, Santi (14) dan Fitri (16).

Meyaksikan hari-hari berat yang dilalui Juminem, Fitri dan Santi tergerak untuk meringankan beban ibunya dengan berjualan keripik pisang di toko-toko di dekat rumah mereka. Sayangnya,  keripik tidak laku setiap hari bahkan terkadang terbuang begitu saja karena sudah kedarluwarsa.

Facebook Comments