Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Dua dalam Satu

Dua dalam Satu

“Kalau boleh tahu mengapa sampai begitu?” tanyaku pelan-pelan.

“Aku tak tahu alasannya meninggalkanku. Lelaki terakhir yang kucintai itu seorang penulis yang kukenal melalui dunia maya. Awalnya, kami hanya berkenalan biasa hingga akhirnya kami mengerjakan sebuah proyek komik. Komik itu tidak jadi kami garap, namun itu membuat kami merasa memilik hubungan, hingga akhirnya kami memutuskan untuk pacaran. Sudah kubiarkan ia tinggal dalam hatiku selama setahun lamanya. Namun apa daya, jarak yang begitu jauh membuatku penuh rasa curiga. Tidak jarang aku menuduhnya berselingkuh dengan wanita lain. Hingga akhirnya, kami pun jarang bertukar kabar. Lama kelamaan ia seperti melupakanku. Aku pernah mencoba menghubunginya, namun yang menjawabnya adalah wanita lain yang memarahiku. Sejak saat itu, aku menjadi sakit hati. Aku begitu sedih karena dilupakan. Sejak saat itu pula, aku menolak lelaki lain yang hendak mengisi hari-hariku. Aku menutup hatiku. Cukup lama aku berusaha melupakannya walau ujungnya gagal. Kucoba hijrah walau itu sulit, hingga akhirnya aku menjadi seperti ini,” jelasnya panjang lebar.

Ketika ia menjelaskan tentang lelaki pertama yang dicintainya, tiba-tiba aku mengingat seorang wanita yang begitu mencintaiku. Memang, ada begitu banyak wanita yang mencintaiku karena tersentuh dengan puisi-puisi romantis yang kuberikan. Namun, wanita itu begitu beda. Dia begitu membekas dalam ingatanku.

“Sepertinya kau mengingatkanku juga pada wanita yang dulu kukenal lewat dunia maya. Dulu aku menyukainya karena kemampuann menggambarnya begitu hebat. Ketika melihat kemampuannya, aku lalu mengingat impianku untuk menjadi komikus sehingga aku menjalin hubungan dengannya. Namun sayang, godaan dunia menulis memang beda. Aku dikelilingi banyak wanita yang menyukai puisi-puisiku sehingga aku sering lupa menghubunginya. Hingga akhirnya, aku menjalani hubungan dengan wanita lain yang lebih baik darinya. Untuk itu, aku terpaksa memutuskan hubunganku dengannya. Namun setelah beberapa bulan berlalu, aku sadar bahwa aku melakukan kesalahan. Aku ingin meminta ia kembali padaku. Namun, aku begitu gengsi mengatakannya. Aku hanya menyimpan kenangan itu sendirian,” jelasku.

“Apa ini kamu?’ tanya Halimah.

“Maafkan aku, Halimah,” jawabku pelan.

Mendengar hal itu Halimah tampak mundur. Ia sepertinya ingin mencoba menjauh dariku, “Maafkan aku!” mintaku pelan.

Halimah terlihat membuang nafas. Cadarnya bergoyang sedikit ke depan. Ia lalu menutup mata sembari mengelus dada.

“Sudahlah. Itu semua hanya masa laluku. Engkau kumaafkan,” jawabnya.

Translate »