“Kau belum memperkosaku, tapi kau pasti baru saja berniat memperkosaku. Untung aku cepat bangun. Kalau tidak, sudah habis tubuhku diapa-apain olehmu. Dasar mata jalang!” katanya memburuku.
“Memangnya wajahku ini wajah penjahat kelamin apa?” tanyaku.
“Iya,” jawabnya.
“Astaga, padahal aku orang baik-baik lho,” jawabku pasrah.
Ia menatap sekeliling sambil merasa heran. Tiba-tiba ia gusar sendiri.
“Ya Tuhan, ini di mana? Aduh, padahal hari ini keluargaku harus bertemu dengan keluarganya,” ucapnya sedih.
“Tolong lepaskan saya! Saya harus keluar dari sini!” teriaknya.
“Tolong, tolong saya!” teriaknya kembali seperti anak kecil kehilangan mainannya. Tidak lama kemudian, manik bening menetes di kiri kanan pipinya.
Aku tersentuh melihatnya, lalu kucoba menghapus air matanya. Ia malah memarahiku dan menjauhi dari tubuhku.
“Jangan coba-coba menyentuhku! Kita ini bukan muhrim,” bentaknya.
Aku hanya pasrah dengan penolakan itu. Hal ini kupikir wajar. Toh ia memakai gamis dan cadar, yang menandakan bahwa ia pemeluk agama yang taat. Ah, sayang sekali. Padahal, ketika menangis wajahnya terlihat manis.
Ia kembali bertanya apa aku hendak melakukan hal buruk terhadapnya. Kembali kujawab tidak. Ia kembali rewel seperti anak kecil. Aku terpaksa menunggunya tenang.
Setelah ia agak tenang, Kucoba menanyakan identitasnya.
“Namaku Halimah. Aku berasal jauh dari Kota Utara. Seingatku, terakhir aku datang ke Kota Selatan untuk menemui keluarga calon suamiku sebab kami sedang melakukan taaruf selama beberapa bulan ini. Rencananya hari ini kami mau melakukan lamaran,” ia terdiam seketika.
“Namun, itu semua tidak mungkin terjadi jika aku terkunci di sini,” rengeknya manja.
Kucoba menghibur sebisaku. Setelah ia terhibur dengan leluconku yang tidak lucu, ia menanyakan asalku. Kukatakan bahwa namaku adalah Bujang dan tinggal di Kota Selatan. Aku sedang melakukan riset ke suatu rumah tua untuk artikel yang akan kuikutkan ke suatu lomba. Ketika mencapai rumah itu, tiba-tiba saja aku berada di ruangan ini tanpa kuketahui sebelumnya.
“Apa tidak ada jalan keluar dari sini?” tanyanya.
Mendengar pertanyaannya, aku lalu menjawab bahwa tidak ada jalan keluar. Aku lalu menjelaskan berbagai upaya yang telah kulakukan saat ia tertidur. Mulai dari mencoba membuka ganggang pintu dan berusaha mendobraknya, namun usaha itu sia-sia. Ia sempat bertanya mengapa lelaki sepertiku tak mampu mendobrak pintu. Kukatakan saja terus terang bahwa aku tidak sekuat yang ia bayangkan. Ia hanya tertawa melihat kebodohanku.
“Apa tidak ada jalan lain selain lewat pintu itu?” tanyanya kembali.
