Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Dua dalam Satu

Dua dalam Satu

Saat aku membuka mata perlahan-lahan, Aku melihat sebuah sinar terang. Aku mencoba membuka mata seluruhnya walaupun terasa agak sakit. Perlahan-lahan, aku mencoba bangun. Namun aku terkejut, aku tidak mengenal tempat ini. Kucoba mengingat kembali mengapa aku sampai di tempat ini. Tidak, aku tidak bisa mengingat apa pun. Di sebelahku, ada seorang wanita bercadar yang memakai gamis agak panjang berwarna pink dan rok panjang berwarna hitam. Cadarnya yang hitam  membuatku tak bisa mengenalinya. Lagipula, mengapa juga aku harus berada di tempat yang tak kukenali bersama wanita ini?

Pelan-pelan, kucoba membangunkan wanita itu. Ternyata ia menolak manja ketika kubangunkan. Aku mencobanya lagi, sayangnya wanita itu terlalu lelap dalam tidurnya.

“Daripada aku menunggu ia bangun. Sebaiknya aku mencari cara agar bisa keluar dari ini,” gumamku.

Lalu aku mencoba berdiri dan memeriksa ruangan yang hanya tersedia satu pintu itu. Tak ada jendela di sini. Kucoba melihat ke atas. Kutemukan sebuah saluran udara. Aku mencoba melihat ke sisi yang lain lagi. Ada sebuah penyedot debu, tempat sampah, dan berbagai alat untuk bersih-bersih lainnya. Tampaknya, aku sedang terjebak di sebuah gudang untuk menyimpan alat-alat kebersihan. Sudahlah aku tak perlu memikirkan itu. Aku pun berjalan ke arah pintu dan mencoba memutar ganggang pintu itu. Celaka terkunci!

Kucoba berulang-ulang memutar ganggang pintu yang  benar-benar keras dan tetap tak bisa dibuka. Kudobrak paksa pintu itu dengan membantingkan tubuhku. Satu, dua, tiga. Kucoba kembali mendobrak pintu itu dengan tubuhku, namun benda itu terlalu keras. Sudah kucoba berkali-kali mendobraknya, tapi tetap saja tidak bisa. Barangkai tubuhku yang kurus tidak mampu membuka pintu yang terlalu keras itu.  Aku sungguh kesal dibuatnya. Kutendang berkali-kali pintu itu. Ah percuma saja, semua hal itu tak mengubah apa pun. Pintu itu tetap tak akan terbuka.

Keputusasaan membuatku terduduk di belakang pintu itu. Ingin menangis aku menangis, tetapi air mata urung keluar sedikit pun. Tiba-tiba wanita itu terbangun dari tidurnya. Ia l bangkit dan mencoba duduk. Lalu mengucel matanya dan sepertinya terkejut melihat keberadaanku.

“Kamu siapa? Jangan-jangan mau memperkosaku ya? Ayo ngaku! Berani-beraninya kau melakukan hal itu kepadaku. Aku sudah milik orang lain!” teriak wanita bercadar itu.

“Kau sudah gila, Ya? Tidak mungkin aku memperkosamu. Lihat saja pakaianmu masih sangat utuh. Apalagi cadarmu masih terpasang rapi. Bagaimana mungkin aku bisa menikmati tubuh wanta tanpa melihat wajahnya?” bantahku pelan.

Translate »