Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Dua dalam Satu

Dua dalam Satu

“Tentu saja ada. Lewat saluran udara di atas. Sayangnya, saluran udara itu terlalu tinggi. Apa kau mau membantuku? Namun, aku perlu menggendongmu dan kaulah nanti yang akan membuka saluran udara itu,” ungkapku.

“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak sudi disentuh oeh lelaki yang bukan muhrimku,” bantahnya.

“Ayolah untuk sekali ini saja,” pintaku.

Tidak mudah membujuk Halimah untuk membantuku. Ada berbagai dogma yang dijadikan alasan agar aku tidak menyentuhnya. Aku harus membujuknya terus menerus. Setelah melalui berbagai penolakan, akhirnya ia mau juga.

Sungguh tidak mudah menggendong wanita yang memakai pakaian tertutup serba panjang itu. Aku pun tak mungkin menggendongnya di punggung. Tentu juga tidak mungkin ia duduk di pundakku karena akan terhalang gamisnya yang panjang. Satu-satunya cara, ia akan  berdiri di pundakku. Untuk posisi ini, tentu tubuh kurusku yang kasihan. Namun daripada tidak bisa keluar, apa boleh buat?

Saat aku jongkok, Halimah mulai berdiri di atas pundakku. Pelan-pelan dengan berat,  aku mulai berdiri. Untungnya, tubuh Halimah begitu ringan. Meski tubuhnya sedikit goyang. akhirnya stabil jua. Perlahan-lahan, diperiksanya saluran udara di atas kami.

“Keras sekali,” keluhnya.

“Coba periksa baik-baik!” jelasku.

“Sudah kucoba, tetap saja keras. Tidak bisa dibuka sedikit pun,” keluhnya.

Aku menurunkan Halimah. Aku dan Halimah akhirnya pasrah terkurung dalam ruangan ini. Halimah tidak merengek lagi seperti tadi. Dari dua matanya yang hanya kulihat itu, tampak bahwa matanya sudah tidak memikirkan rencana lamaran yang ia katakan sebelumnya. Ia hanya terduduk lesu menerima nasib.

Halimah lalu mencari-cari sesuatu. Ternyata ia mencari tasnya. Ia pun membuka tasnya lalu meraba-raba seperti hendak mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian, ia mengeluarkan tumpukan kertas gambar dan sebuah pensil. Setelah itu, ia mulai menggambar sesuatu.

“Kau mau menggambar apa?” tanyaku.

Kepo,” balasnya.

Sepertinya, ia tidak akan memberi tahu apa yang hendak ia gambar. Ia masih sibuk menggambarkan sesuatu dengan pensilnya itu. Tak lama kemudian, selesailah gambar sepasang pengantin. Lelaki dengan setelan jas dan peci seta jangutnya yang pendek. Ia memeluk seorang perempuan bergamis panjang dan bercadar.

“Ini aku dan calon suamiku kelak,” ucapnya sembari memamerkan gambarnya yang telah jadi itu kepadaku.

“Apa hanya lelaki berjenggot saja yang kau suka?” tanyaku.

“Tentu tidak. Aku memilih lelaki yang ketampanannya bak aktor dalam drama-drama korea. Namun, aku telah melupakan hal itu ketika terakhir aku benar-benar jatuh cinta. Meski ujungnya mengecewakan,” jelasnya.

Translate »