Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Cerita > Turun Ranjang

Turun Ranjang

Turun Ranjang

Aku pandangi foto mendiang istriku. Ia baru saja meninggalkan kami seminggu yang lalu. Penyakit kanker rahim sudah menggerogotinya selama dua tahun terakhir. Aku memperlakukannya seperti tuan putri, meski hanya dua tahun. Selama enam belas tahun menikah dengannya, dialah yang menjadikanku seperti seorang raja. Tak sehari pun ia menelantarkanku.

“Papa, ini ada surat dari Mama.”

Anak sulungku membangunkanku dari lamunan. Lelaki berusia lima belas tahun itu menunduk di hadapanku, tak berani memperlihatkan wajahnya. Sudah seminggu aku berkabung dan tak mau keluar dari kamar.

Anak-anak bingung dengan sikapku yang tak mau keluar barang sedetik pun. Semua keperluan disediakan anak sulungku. Hanya dialah yang masuk ke kamar. Kedua adiknya entah ke mana, aku terakhir melihat mereka saat pemakaman istriku.

“Adik-adikmu di mana?”

Anak sulungku terkejut saat aku menanyakan hal itu padanya. Ada semacam ketakutan dan kebingungan di wajahnya.

“E… e… mereka….”

“Di mana mereka?” tanyaku datar.

“Em…. Ada tante membawa mereka, Pa.”

“Tante siapa? Kamu tahu kan Papa dan Mama tak punya adik?”

“Dia memberikan nomor hape.”

“Kenapa kamu seenaknya memberikan adikmu ke orang lain?!”

Suaraku meninggi. Aku pojokkan tubuh anak sulungku yang nyaris sama tinggi denganku. Aku cengkeram lengannya dan sedikit terkejut. Lengannya begitu kurus, nyaris tak berdaging. Namun, aku tetap tak melepaskannya meski ia mengaduh.

“Dasar, anak tak….” Tercekat lidahku saat aku akan mengatakan kata-kata buruk. Teringat dengan mendiang istriku yang selalu mengingatkanku untuk menahan diri saat marah dengan anak-anak, sehingga kata-kata buruk tak keluar dari mulutku.

“Mana nomor hapenya?!”

“Ada di meja dekat tivi.”

Ia menjawab dengan lirih. Nyaris aku tak mendengarnya jika tak berada tepat di wajahnya. Anak lelakiku itu tetap tak berani menatapku. Sejenak, aku menatap wajahnya yang tirus. Ada semburat kesedihan di raut wajahnya yang persis sama dengan wajahku, namun sifatnya sama persis dengan mendiang istriku. Tak pernah melawan dan sangat lembut. Aku tak menyukai lelaki dengan sifat seperti itu, terlalu lembek dan istriku selalu membelanya jika aku memarahinya.

Facebook Comments