Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > Dua dalam Satu

Dua dalam Satu

Aku merasa lega mendengar ucapan itu, namun masih ada sedikit penyesalan karena apa yang kulakukan dulu. Seandainya aku tidak menjauhi dirinya waktu itu. Mungkin saja, saat ini dia yang berdandan cantik jauh lebih cantik daripada dulu. Ya, penyesalan selalu datang terlambat.

Tiba-tiba terdengar suara tawa dari luar pintu. Sontak Aku dan Halimah kaget. Tawa itu semakin lama semakin keras. Aku dan Halimah semakin ketakutan. Entah siapa yang tertawa bengis itu. Aku membayangkan apa yang akan dilakukan orang dibalik pintu itu kepadaku dan Halimah.Aku semakin takut jika saja mereka berniat jahat kepada kami. Pikiranku semakin kacau.

“Bagaimana Halimah? Apa kau puas sudah menemukan orang yang selalu kau rindukan dalam mimpimu? Kau sering bercerita padaku bahwa kau selalu bertemu dengan seorang pria penulis dalam mimpimu. Aku yakin kau sangat mencintai pria itu meskipun kau kelak menjadi milikku,” ucap suara misterius itu.

“Sekarang kau pasti sudah puas? Iya kan, Halimah?” bentak suara misterius itu.

“Sudahlah Rido. Sudah hentikan!” teriak Halimah.

Aku semakin tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Pikiranku semakin kacau karena situasi ini. Tiba-tiba pintu itu dibuka. Seorang lelaki berbadan tegap dan berjenggot tebal melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Lelaki itu memegang sebuah pistol yang diarahkan ke tubuhku. Aku semakin panik. Adrenalin menguasai tubuhku.

Hal lain yang kuingat saat itu adalah janjiku. Janji yang pernah kuucapkan kepada Halimah dulu. Mungkin ia sudah lama melupakannya. Meskipun ia sudah melupakannya, saat ini aku harus menepati janjiku itu. Terserah ia mau menerima atau tidak janji itu.

Pistol itu belum sempat meletuskan pelurunya. Salah satu di antara kami ada yang terjatuh ke tanah. Ada sedikit noda darah jatuh ke lantai. Tenang itu hanya sedikit luka dari wajah kami yang lebam hasil kami adu kekuatan tinju. Kulihat Halimah menangis melihat pertengkaran dua manusia ini. Tingkah kami cukup bodoh seperti anak kecil yang berebut mainan.

Ah, seandainya aku tidak melupakan wanita yang kurindukan setiap harinya itu. Saat ini aku teringat kembali sebuah puisi tua dari Chairil Anwar judulnya “Cintaku Jauh Dipulau”. Ah, aku tidak mau menuruti nasihat penyair tua yang jomlo itu. Siapa juga yang mau berpisah dari kekasih hati?

 

Jambi, 28 November 2017

 


Biodata Penulis


Febrianiko Satria, hobi membaca dan menghayal. Bercita-cita menjadi musafir yang menulis tentang indahnya Indonesia. Aktif juga berorganisasi sebagai ketua Komunitas Berani Menulis. Blog: nikox7.blogspot.com. Pos-el: febrianiko.satria@gmail.com. Facebook: https://facebook.com/febrianiko.satria, dan Instagram: @niko_x7.

Translate »