Sawitri menggelung rambut panjangnya yang telah kelabu seluruhnya. Di cermin, ia melihat bayangan itu: sesosok ruh yang ingin menari dalam tubuh yang baru. Sebentar lagi, malam ini juga, bisiknya kepada sosok yang kembali masuk ke dalam tubuhnya yang kian condong ke tanah.
Di luar malam serupa perempuan hamil yang berjalan pelan hendak melahirkan. Angin menabur aroma kemenyan ke seluruh arah. Bulan yang menggantung di langit sebulat perut yang mengandung janin. Cahayanya tampak lungkrah mengarsir sepetak tanah di halaman sebuah rumah.
Pada halaman yang luas itu, sebelas obor dari bambu dipacak memutar. Satu-persatu perangkat gamelan diletakkan: bonang, saron, titil, kenong, jengglong, ketuk, klenang, kemanak, dan dua gong serta kendang. Di depan seluruh perangkat gamelan yang telah ditata di depan rumah itu, ada sebuah kotak hitam besar yang di atasnya terdapat kecrek dan sebuah topeng berbungkus kain merah.
Halaman rumah berdinding bambu itu perlahan berubah menjadi panggung ketika beberapa tikar pandan digelar di tengahnya. Para nayaga telah siap menabuh semenjak pukul 00.00. Dengan pemukul di tangan, mereka duduk menghadap alat masing-masing, sesekali mengisap rokok kretek dan menyeruput kopi hitam yang dihidangkan. Mereka seperti ingin menabuh hingga subuh, penaka ingin mengantar sesosok ruh ke dalam sebuah tubuh.
Di antara wangi kemenyan yang basah oleh titik-titik embun, dari dalam rumah Sawitri keluar menuntun dua gadis kecil, yang telah lengkap mengenakan pakaian tari bermotif parang dengan segala aksesorisnya. Mereka didudukkan di ujung tikar pandan sehingga membentang sebuah ruang pertunjukan antara mereka dengan perangkat gamelan.
Sawitri memberi aba-aba para nayaga untuk melaras gamelan sementara ia mengikat sampur di perutnya, dengan ujung yang sama panjangnya, dan mengencangkan sobra di atas kepalanya. Ia berjalan ke depan kotak hitam, menaruh kaki kanannya di atas kotak itu untuk beberapa lama sembari mendengarkan Dalban, anak lelakinya yang ada di belakang kotak, merapal mantra dengan nada yang sendu.
Dimulai dari kendang, perlahan-lahan para nayaga menyusun komposisi gonjing. Sawitri pun mulai menari, kakinya menjejak perut malam yang serupa milik perempuan hamil. Ia seolah sedang mengurutnya agar segera melahirkan janin yang dikandung sejak sembilan puluh sembilan hari yang lalu, sementara kedua cucunya terus bersiaga mengikuti gerak tari neneknya.
***
“Isun wis bli kuat, Teh.” (Saya sudah tidak kuat, Mbak)
Tarni cuma bisa tersenyum tiap kali adiknya mengeluh. Ia tahu kalau daya tahan Nurani masih kuat. Sudah hampir tiga bulan mereka melakoni segala jenis puasa dari sedawuhan, nggedang, mutih, dan wuwungan. Bahkan, pada malam-malam tertentu, yakni tiap malam Selasa legi dan malam Jumat kliwon, mereka harus menanggung beban berat badan neneknya ketika sekujur tubuh mereka diinjak-injak seluruhnya, dari kepala hingga telapak kaki. Meskipun neneknya bertubuh kurus dengan usia lebih dari 70 tahun, injakannya masih sekokoh kuda-kuda seorang pendekar.
