Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Cerita > Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

Kakakku Jangan Menangis

 

Kak, jangan nangis….

Setiap pagi sepulang kerja, aku bangun tidur dan kakak pulang dengan mata panda. Ia menatapku, mengulas senyum, menguap, menutup mulut, ke dapur mencuci muka, memasak telur, ikan atau nasi goreng untuk aku sarapan pagi. Kakak tidak sarapan. Aku sudah paham.

Kalau aku sedang sarapan, kakak menyiapkan buku dan segala perlengkapan ke dalam tas sekolahku. Biasanya, setelah aku berangkat sekolah sekitar pukul tujuh kakakku akan langsung tidur, setelah terlebih dahulu mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Ia akan bangun menjelang siang hari. Mandi, makan, lalu menyiapkan makan siang kami. Aku sayang sekali sama kakakku. Dialah satu-satunya orang yang menyayangi dan menjagaku.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum aku bersekolah di Sekayu, aku bersama kakak tinggal di rumah sepupu ibu di Palembang. Tapi, kemudian kami pindah. Kakak bilang ia sudah tidak nyaman lagi, istri dari sepupu Ibu mudah cemburuan dan suka marah-marah sesuka kepada kakak, bahkan kakakku pernah ditampar dan ditendang. Kakak tidak tahan lagi, ia mengajakku pindah diam-diam. Kata kakak, sepupunya ibu (paman kami) pasti akan melarang kami pergi dari rumahnya. Namun, kakak tidak enak hati sama istrinya, maka kami pergi tanpa permisi. Kakakku selalu cerita banyak kepadaku, karena akulah adik dan keluarga kandungnya yang tersisa; satu-satunya curahan hati tempat berbagi suka dan resah.

Sebelum pindah diam-diam dari Palembang, kakak bilang ia akan mencari kerja. Paras kakakku lumayan cantik, oh ya, nama kakakku Syifa Eka Putri, panggil saja kakakku: Syifa. Aku bingung berapa umurnya, tapi kakakku lahir Oktober 1991, bintang Libra dan Shio Kambing, kata kakak.

Kakak bilang dengan anugerah paras yang lumayan, mungkin ia akan berpeluang bekerja sebagai SPG, atau penjaga toko, atau hal sejenis lainnya. Kakakku tidak bodoh, ia langganan tiga besar semasa SD, salah satu bintang kelas kesayangan para guru. Namun, kakakku putus sekolah ketika pertengahan SMP empat tahun yang lalu, ketika aku masih berusia enam tahun. Sebabnya, karena ayah dan ibu pergi liburan. Waktu itu aku sangat sedih, ayah dan ibu pergi liburan tidak mengajakku. Aku sebal dan menangis tersedu-sedu.

Facebook Comments