Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Cerita > Nyanyian Subuh

Nyanyian Subuh

Asap sesajen

TEPAT pukul 04.30, rumah-rumah mulai diterangi cahaya api. Rumah kayu dan rumah anyaman bambu itu tampak seperti lampion-lampion yang siap diterbangkan. Kemudian suara lengkingan seriosa mulai menggema di setiap rumah, menjadi gumpalan udara yang membumbung tinggi menembus langit, mengharap jatuhnya intan atau permata. Bersama lengkingan dan angin dingin, mereka meletakkan kepercayaan dan harapan.

Aku mengernyit malas. Lebih baik aku tak kembali ke tanah kelahiran yang menurutku, sinting! Telah jauh aku berlayar dan menapaki pulau-pulau, dan telah kusimpulkan, tak ada desa yang lebih disiplin  dan lebih gila dari desa kami. Desa kecil di pulau terpencil. Aku senang, digelari bocah pembangkang sejak kecil. Tak seperti ketujuh kakakku yang senantiasa mengikuti tingkah orangtua kami di setiap subuh.

Nyanyian subuh. Begitu kata mereka dengan bangga. Tradisi turun temurun. Tua muda, besar kecil, seluruh penghuni desa harus membuka mata saat dinihari dan menyiapkan beberapa lampu teplok. Kemudian mereka mengelilingi lampu dengan menyatukan kedua telapak tangan persis patung Buddha. Buddha? Bicara mengenai agama, kami tak pernah tahu nama agama kami.

“Duduklah yang rapi, Le!” Mak membentak, dan aku tak berani berkutik.

Lalu mereka menarik napas.

“Subuh, subuh…, kami terjaga!

Subuh, subuh…, kami memujamu!

Subuh, subuh…, juga pada langitmu!

Subuh, subuh…, turunkan kebaikanmu!

Subuh, subuh…, makmurkan hidup kami!”

Nyanyian bernada seriosa itu menggema ke seluruh ruangan. Mereka mengulangnya berkali-kali hingga tenggorokan mereka perih. Wajah-wajah mereka tampak bangga ketika menyenandungkan nyanyian yang menurutku jauh dari logika itu. Padahal, kehidupan mereka sama saja, tetap jungkir balik di sawah, kubangan lumpur, hutan, juga menjala di sungai-sungai. Subuh atau langit tak mengubah apa pun. Tak menjadikan mereka bergelimang harta.

Facebook Comments