Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Opini/esai > Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Tradisi Panjat Pinang: Merayakan Kemerdekaan atau Melecehkan Kemanusiaan?

Tradisi Panjat Pinang

 

Rini Febriani Hauri
Penulis: Rini Febriani Hauri, seorang perempuan yang bersembunyi di tubuh wanita. Senang merayakan kesedihan dan makan keju basi.

Setiap tanggal 17 Agustus negara Indonesia pasti merayakan kemerdekaan. Kemerdekaan adalah anugerah terbesar yang bisa kita rasakan sekarang ini. Berkaitan dengan perayaan kemerdekaan, sudah menjadi hal yang lumrah bila di tiap desa hingga tingkat nasional mengadakan beberapa perlombaan. Perlombaan biasanya diadakan mulai tanggal 17 Agustus hingga akhir Agustus. Tak jarang pula, ada beberapa desa yang masih merayakan kemerdekaan Republik Indonesia hingga awal September.

Perlombaan dalam rangka kemerdekaan tidak hanya diadakan oleh para masyarakat umum saja, tetapi juga masyarakat sekolah hingga perguruan tinggi. Lomba-lomba yang diadakan, seperti lomba makan kerupuk, balap karung, joget balon, menyanyi, memasukkan kelereng ke dalam botol, hingga panjat pinang. Peserta lomba pun beragam, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Biasanya, puncak acara yang paling seru dan paling ramai ditonton adalah perayaan tradisi panjat pinang.

Panjat pinang sejatinya adalah sebuah perlombaan memanjat batang pohon pinang yang sudah dihaluskan dan diolesi pelumas, seperti minyak dan oli. Biasanya di atasnya sudah terdapat berbagai macam hadiah, mulai dari barang-barang primer hingga sekunder, seperti makanan, pakaian, sepeda, boneka, bantal, keperluan dapur, dan lain-lain. Bagian paling atas hadiah, diberi bendera merah putih yang akan berkibar bila tersapu angin. Hadiah ini beragam tergantung keuangan desa. Selain dana kas desa, biasanya dana bersumber dari iuran sukarela masyarakat.

Peserta panjat pinang ini bukan hanya laki-laki saja, terkadang ada juga panjat pinang yang khusus diadakan untuk ibu-ibu. Kreativitas dan kerja sama tim sangat dibutuhkan dalam perlombaan ini. Sebab perjuangan jatuh bangunnya seringkali mengundang gelak tawa hingga tepukan tangan yang meriah. Bila sampai ke puncak, biasanya sorak sorai akan lebih membahana dan hadiah tentu saja akan dibagi rata kepada tiap peserta lomba.

Facebook Comments