Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Turun Ranjang

Turun Ranjang

Turun Ranjang

Namun, tetap saja, aku tak menyukai lelaki berperangai lembut. Sama dengan sifat mendiang istriku yang sangat lembut, nyaris tak pernah marah selama hidup serumah denganku. Meski begitu, lama-kelamaan aku berpikir bahwa aku beruntung bisa menjadi suaminya karena kehalusan sifatnya yang meluluhkan kerasnya pendirianku.

Ia pendengar yang baik. Keluh kesahku dengan pekerjaan dan keluarga didengarkan dengan baik. Ia selalu memberi saran yang baik lagi bijak. Hanya satu kekurangan yang tak ia miliki: tak mampu membuatku jatuh cinta padanya.

Hingga detik ini, hatiku tak pernah berdegup kencang untuknya. Aku merindukannya sebagai seorang istri bukan sebagai perempuan yang aku cintai seumur hidupku. Aku memujanya sebagai seorang sosok sempurna dengan posisi istri paling berbakti. Aku hidup bahagia dengannya meski tanpa getar-getar cinta.

Terdengar konyol bukan? Begitulah kenyataannya bahwa cintaku selama ini bukan untuk istriku. Hatiku sudah terpaut jauh dengan seseorang yang entah di mana rimbanya. Ia meninggalkanku tepat di hari perayaan lamaran kami. Kenangan pahit dan ingin aku lupakan. Lelaki tak boleh lemah karena cinta, jadi aku harus melupakannya meski tak pernah bisa. Aku merindukannya dengan seluruh getar-getar cinta di hatiku.

Tetiba aku teringat padanya saat perempuan yang membawa kedua anakku itu bersuara. Aku yakin itu suaranya. Semoga itu bukan dia, karena aku belum siap menemuinya. Hatiku sedang hancur sepeninggalan istriku dan rasanya belum sanggup merasakan getar-getar asmara. Aku limbung.

Menjelang dua hari menemui perempuan itu. Aku mempersiapkan diri.

Aku meminta pada bosku untuk cuti 2 minggu. Memaksimalkan masa berkabung dengan memandangi foto dan mengingat semua kenangan bersama mendiang istriku. Aku ingin menata dan menyimpan kenangan-kenangan manis bersamanya, kemudian kembali menjalani hidup, tanpanya.

“Bawalah anakmu.”

Perempuan dengan suara yang sangat mirip mantan kekasihku itu meminta untuk membawa serta anak sulungku.

Aku melihat cafe penuh kenangan itu telah banyak berubah, namun ada satu yang tak berubah, anjungan di dekat pohon sawo, tempat favoritku dengannya.

Sosok perempuan seperti dugaanku tengah duduk dengan kedua anakku di anjungan itu. Hatiku berdebar-debar. Aku menyembunyikannya dari anak sulungku. Aku tak mau ia mengetahui tentang perasaanku. Ia begitu mencintai ibunya, tentu tak akan rela ada pengganti mendiang istriku.

“Apa kabar, lama tak jumpa?” Ia menyapa dengan senyuman yang membuat jantung makin berdegup.

“Baik. Kamu?”

“Seperti yang kamu lihat. Silakan duduk. Akan aku ceritakan semuanya.”

Translate »