Danar menatap gundukan tanah merah basah di hadapannya. Aroma bunga melati yang bertabur di atasnya menusuk kuat, sekuat penyesalan yang kini tersisa mengisi penuh ruang hatinya. Dua tetas air mata jatuh tepat pada bingkai foto buram yang ada pada telapak tangan kanan: ada ayah, ibu dan dirinya di sana. Sedangkan telapak kiri, memeluk erat nisan kayu yang ditancapkan terakhir saat jasad ibu telah tertutup rapat oleh tanah.
***
Santoso berulang-ulang menyapukan telapak tangan di perut besar istrinya. Sekali-kali ia tempelkan telinga di atasnya, lalu berakhir dengan ciuman bertubi-tubi yang kerap berujung pada tawa Lina, karena rasa geli yang teramat sangat. Kandungan Lina tinggal menunggu hari. Dokter bilang janinnya berjenis kelamin laki-laki. Kabar itu semakin membuat Santoso senang, membayangkan lawan main pada papan catur kesayangannya. Setelah menunggu hampir lima tahun, buah cintanya dengan Lina akan segera lahir.
Tangis keras bayi yang terdengar dari kamar bersalin itu membuatnya bergegas mendekat ke pintu. Ingin rasanya menerobos masuk, untuk segera melihat raut wajah pemilik tangisan. Mirip dirinya kah, atau mirip Lina Istrinya? Karena pintu tak kunjung terbuka, layaknya anak kecil yang dipenuhi rasa ingin tahu, Santoso berusaha mengintip dari lubang kunci. Ia buka mata lebar-lebar, berharap menangkap satu bayangan yang diharapkan. Ah, hanya punggung dengan baju putih milik dokter yang terlihat. Santoso memutuskan duduk, namun sebentar sudah berdiri lagi dengan gelisah.
***
Nugrah Danar Putra. Lina mengajukan nama itu untuk bayi mungil mereka. Santoso pun menyetujuinya. Bagi Santoso, nama tidak lagi menjadi penting. Kebahagiaannya begitu membuncah, lebih dari rasa senang ketika ia berhasil mengalahkan Budi di papan catur dengan skakmat, setelah remis dua kali berturut-turut.
Danar tumbuh sehat dan memberi warna lain dalam perkawinannya. Untuk mengabadikan kehadiran Danar, sore itu ia memaksa Budi datang ke rumah untuk mengambil foto dengan kamera DSLR miliknya. Satu dari sekian gambar terbaik, dibingkai dan ia letakkan di atas meja kayu di kamar tidur. Di foto itu Lina dan dirinya sedang memeluk Danar.
Begitu sudah mulai mengenal mainan, Danar lebih menyukai kuas dan bermain dengan cat air dibandingkan biduk catur yang ia berikan. Lina menanggapi dengan tertawa ketika melihat biduk catur justru dilempar Danar saat Santoso menyodorkannya.
“Danar mau jadi penggantinya Leonardo Da Vinci Mas, bukan Magnus Carlsen, sang juara dunia catur idolamu,” ujarnya.
Bakat melukisnya kian hari terus meningkat. Namun, rasa kecewa Santoso karena Danar tidak menyukai catur, sama sekali tidak mengurangi kasih sayangnya pada anak semata wayang tersebut.
