Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Turun Ranjang

Turun Ranjang

Turun Ranjang

Ia menceritakan tentang hubungan dirinya dengan mendiang istriku. Tak satu kata pun, ia menceritakan hubungan kami di masa lalu. Ia menjaga perasaan anak-anakku.

Aku tak pernah menyangkanya bahwa perempuan yang selama ini aku cintai dan meninggalkanku adalah adik kandung mendiang istriku.

“Maafkan aku dengan segala keegoisan yang telah aku perbuat di masa lalu. Namun, kamu tak akan pernah hidup sebahagia dengannya jika menikah denganku.”

“Hmm…. Begitu menurutmu?”

Sejenak menjauh dari ketiga anakku untuk mengungkapkan perasaan yang tertimbun selama tujuh belas tahun. Dia meninggalkanku setahun sebelum menikahi mendiang istriku. Banyak tanya yang bergelinjang di pikiranku. Aku mengungkapkan rasa penasaranku itu dan ia menjawabnya tanpa beban.

Tak pernah aku sangka, istriku sengaja mendekatiku demi dirinya. Mantan kekasihku itu memutuskan untuk meninggalkanku karena ia mengandung anak dari sahabatnya. Ia diperkosa sekitar 3 bulan sebelum perayaan lamaran kami. Ia tak sanggup mengungkap kebenaran dan memilih kabur ke Kanada, menjadi orang tua tunggal. Ia kembali dua tahun yang lalu, saat mendengar istriku sakit. Istriku memintanya kembali ke Indonesia.

Anaknya lelaki, satu kelas dengan anakku. Sahabat anakku. Sering kali ke rumahku dua tahun terakhir ini. Betapa aku tak peduli dengan anak sulungku itu. Bersit kekecewaan pun menyumbat hatiku. Perasaan menyesal mulai merasukiku. Seandainya aku peduli dengan anak lelakiku, pasti aku akan cepat menyadari bahwa mereka bersaudara.

Anak sulungku sudah menyadarinya sejak lama, ketika ibunya mulai sakit-sakitan. Saat aku bertanya tentang sepupunya itu, ia menjawab: “Mama sudah lama memberitahuku, sejak ia sakit. Mama juga memberitahuku tentang hubungan Mama dengan Tante, tapi aku tak keberatan. Itu masa lalu Papa dan aku memang bersahabat baik dengan anak Tante.”

Perkataan anak sulungku itu menyadarkan bahwa ia sudah mulai dewasa. Aku baru memahami bahwa sifatnya yang lembut itu lebih baik buatnya karena kepekaan dan sikap dewasa yang tak aku miliki saat seusianya sehingga membuat ia mampu menerima masa laluku.

Masa cutiku sebentar lagi habis. Pertanda bahwa masa berkabung pun berakhir. Sejak aku bertemu dengan adik mendiang istriku sekaligus mantan kekasihku itu, aku tak lagi berdiam diri di kamar. Meski, kebiasaan memandang foto istriku belum juga menghilang.

Seperti malam ini, malam terakhir sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan. Aku memandangi foto istriku. Saat hendak mengambil buku di meja, mataku tertuju pada surat dari mendiang istriku yang belum sempat dibaca.

Translate »