Saturday, May 9, 2026
Home > Kupas > Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Sepasang Puisi dari Gang Semangat

Saat pertama kali melihat nama Mutia Sukma dan Indrian Koto masuk ke jajaran sepuluh hingga lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, saya merasa senang sekaligus bersyukur. Pasalnya, mereka bukanlah orang jauh bagi saya meski tempat tinggal saya dan mereka benar-benar jauh. Setiap kali singgah ke Yogyakarta, saya pasti mampir ke kediaman mereka (yang sekaligus Toko Buku JBS – Jual Buku Sastra) di Jalan Wijilan Gang Semangat 150, Alun-alun Utara, Yogyakarta. Sambutan mereka pun selalu hangat. Kunjungan terakhir saya ke sana  sekitar bulan Juli pascalebaran. Biasanya saya selalu membawa kopi Jambi, tetapi kali itu kopi yang saya bawa sudah habis dan kedatangan saya memang sengaja menjemput sepasang puisi milik suami istri ini.

 

Perempuan dan Puisi

Perkenalan saya dengan Sukma telah berlangsung sejak lima tahun silam tatkala ada acara PPN VI di Jambi. Kebetulan saya menjadi panitia. Saat itu Sukma datang bersama lelaki (bukan Indrian Koto). Saya masih ingat tanggal bersejarah itu. Kami bertemu di gedung olah seni galeri seni rupa Dewan Kesenian Jambi pada 27 Desember 2012. Sebab lelaki itu adalah teman baik Sukma dan Koto, yang juga eks moderator abadi kegiatan sastra di JBS, yang sekarang saya culik untuk pindah ke Jambi (dan saya pernah merasa sangat berdosa kepada Sukma dan Koto).

Jika kali pertama pertemuan kami disebabkan oleh puisi, pertemuan kami di hari-hari berikutnya ketika saya liburan ke Yogya, selalu membawa banyak kisah tersendiri. Sukma perempuan yang hangat dan sederhana. Saya suka puisi-puisinya yang lembut dan tenang. Namun setiap kali kami berbincang-bincang, kami hampir tidak pernah membicarakan puisi. Kami lebih banyak membicarakan produk kecantikan dan hal-hal seputar perempuan.  Namun Juli lalu ketika saya berkunjung ke JBS,  Sukma mengatakan bahwa buku puisinya baru saja diikutsertakan ke lomba KSK. Setelah itu kami (saya, kekasih saya, Sukma, Rinai dan Koto) makan siang bersama (hal yang sebenarnya membuat saya selalu merasa tidak enak kepada Sukma adalah karena Sukma selalu memosisikan saya sebagai tamu jauh).

Baiklah. Jarak yang jauh tak menutup kemungkinan saya untuk mengulik buku puisi Sukma yang berjudul Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia. Tentu saja ada banyak cara menghubungi Sukma, memanfaatkan media sosial misalnya.

“Saat tahu nama saya ada di urutan sepuluh besar, tentu saya berbahagia. Namun sungguh tidak menyangka bisa masuk ke lima besar sebab saya sadar bahwa buku pertama saya ini disiapkan dengan gegabah. Tidak semua puisi awal hingga saat ini terkumpul. Padahal, banyak puisi semasa awal saya menulis yang seharusnya masuk. Puisi-puisi tersebut merupakan andalan sekaligus sejarah kepenulisan. Saat masa di mana saya menulis puisi dengan energi yang besar, pikiran murni, dan memandang dunia yang ajaib ini dengan perspektif yang sangat polos. Namun di balik kepolosan itu, kekuatan awal puisi saya tidak pernah mampu saya tulis kembali. Puisi-puisi itu raib bersama laptop, flashdisk, dan surel yang telah dibekukan oleh Yahoo,” jawab Mutia Sukma.

Translate »