Saya menulis cerita sejak SD karena terpengaruh kakak saya yang punya buku tulis, yang menjadi novel tulis tangan, serta buku yang semacam bunga rampai yang berisi gado-gado tulisan. Saya mengikuti tulisannya sampai SMA. Saya punya semacam catatan harian dan kumpulan tulisan tangan karya sendiri di buku tulis yang saya beri nama Teratai. Teratai ini lebih dari sekadar diary karena saya menulis puisi, cerpen, dan pandangan-pandangan saya di dalamnya. Setelah saya tulis, biasanya akan dibaca teman-teman sekolah. Sejak SD kalau liburan sekolah selalu ada teman yang memberikan buku tulis kosong pada saya untuk ditulisi apa saja.
Saat SMA saya berhenti melakukannya sebab buku-buku yang saya tulis tersebut untuk teman saya, sehingga saya jadi tidak punya dokumentasi pribadi. Lalu jadilah Teratai itu, buku 120 halaman, yang kalau tidak salah ada belasan jilid berisi tulisan tangan saya. Saya heran, kok ada satu-dua teman, yang mau membaca dan bisa membaca tulisan saya yang jeleknya setengah mampus itu. Untuk menulis serius, saya lakukan setelah di Jogja sejak 2004. Bertemu orang baru yang punya minat yang sama itu menarik.
Sebutkan judul buku beserta tahun dan penerbit yang memuat puisi dan cerpen Bang Koto!
Saya tidak ingat persis. Akan tetapi, umumnya pada masa-masa awal belajar menulis, kita seringkali tergoda ikut antologi bersama dan mengikuti lomba penulisan yang paling tidak karya kita akan dibukukan. Saya termasuk orang yang begitu di masa-masa awal belajar saya. Untuk publikasi pertama di media, saat saya SMA. Ada sebuah majalah sekolah yang digagas Yusrizal KW dan kawan-kawan. Puisi saya dimuat di situ dan hebohnya setengah mati. Ya saya, ya teman-teman saya.
Prestasi Bang Koto dalam menulis apa saja?
Tidak banyak. Saya ini nyaris tanpa prestasi. Untuk lomba penulisan, saya ikut beberapa kali dan menang beberapa kali. Untuk forum sastra, saya orang yang berusaha menghindarinya. Prestasi terbesar saya sejauh ini, saya bisa menulis lagi.
Kapan waktu yang tepat menulis puisi bagi Bang Koto?
Nyaris tidak ada waktu spesial. Periode sebelum menikah jelas semua waktu baik untuk menulis. Setelah menikah dan punya anak, biasanya menuangkan ide lebih pas di pagi hari sebelum aktivitas rutin dimulai.
Bagaimana karakter puisi Mutia Sukma di mata Bang Koto?
Puisi Sukma polos dengan perspektif anak-anak. Saya menyukai puisi-puisi awal Sukma sedemikian rupa, meski tidak banyak yang masuk ke antologi puisi pertamanya. Puisi-puisi Sukma berikutnya saya kira banyak percobaan. Sebab ia punya perspektif baru dan coba ia tuangkan dalam puisi-puisinya. Saya juga begitu. Saat ini, kami: saya dan Sukma, belum berada dalam posisi nyaman dalam menulis. Kami mash mencoba melakukannya. Kami masih sering berdiskusi.
