Sukma dan Koto tidak pernah memaksa Rinai untuk membaca. Mereka dengan sukarela memperlakukan buku seperti anak-anak yang pada umumnya bahagia dengan segudang mainannya. Harapan ke depannya, Rinai bisa mencintai buku seperti kedua orangtuanya. Menjadi apa pun nantinya, ia sudah dibekali dengan pengetahuan yang didapatkan dari buku bacaan.
Indrian Koto – Bos JBS yang Kreatif
Indrian Koto adalah penyair sekaligus cerpenis asal Sumatra Barat yang sekarang berdomisili di Yogyakarta. Karena kecintaannya terhadap buku, Koto mengambil jalan berbeda dari kebanyakan sastrawan Indonesia, yakni dengan mendirikan Toko Buku JBS. Hampir di setiap akhir tahun, Koto seringkali mengadakan kegiatan diskusi buku bersama para penulis dari Sabang hingga Merauke dengan tema “Tahun Baru di JBS”.
Saya pun mewawancarai Koto melalui surat elektronik. Barangkali wawancara berikut bisa mengusir kesepian dan kesendirianmu, atau setidak-tidaknya, mungkin bisa memberimu perspektif baru tentang dunia sastra dari sudut pandang Indrian Koto yang aduhai.
Sudah berapa kali mengadakan acara “Tahun Baru di JBS”, Bang? Tujuannya apa? Idenya dari mana?
Kalau tahun ini jalan berarti yang kelima. Saya ingin ada momen berkumpul bersama teman-teman penulis dan pencinta buku. JBS ini, meski toko buku, tetapi maunya jadi semacam komunitas, wadah untuk penulis dan pembaca. Jadi kita bikin acara kecil-kecilan, tidak formal, mengajak penulis yang notabene teman-teman sendiri untuk berbagi pengalaman mereka dengan pembaca dan para penulis generasi di bawah mereka. Ya, cara ini memang dibuat untuk berbagi saja. Sekaligus kami memberikan diskon yang lebih kepada pembeli pada saat acara berlangsung. Kami juga mengajak beberapa penerbit rekanan agar mau menitipkan buku mereka untuk dipajang dan memberi diskon pada acara tersebut.
Tanggapan masyarakat tentang kegiatan di JBS?
Saya kurang tahu. “Tahun Baru di JBS” saya kira masih sangat kecil skalanya. Belum ada apa-apanya dengan pameran buku lainnya. Cuma sejak awal, ini kan hanya alternatif. Jadi, ukuran kami adalah seberapa banyak orang baru yang datang pada saat acara berlangsung. Saya ingin ruang yang kecil ini bisa menjadi sebuah tawaran baru dari pameran buku pada umumnya, karena peran buku yang dipajang berimbang dengan kegiatan yang kami rencanakan. Meski pengungjung yang datang tidak selalu memuaskan di setiap sesi diskusi, ini menjadi semacam pilihan untuk menanggung risiko dan konsekuensi.
Sejak kapan menulis puisi dan cerpen? Lebih suka menulis yang mana? Lebih mudah menulis yang mana?
