Kalau sekarang tentu puisi saya juga lebih berkembang. Dan sumpah, mengumpulkan puisi menjadi buku adalah pekerjaan paling berat di dunia. Sangat-sangat berat. Itu juga yang membuat saya tidak merasa ada yang bolong, saat melihat daftar isinya. Sebagai buku pertama, saya kira sudah cukup. Selebihnya pembacalah yang berhak menilai. Menakar bagus-tidaknya.
Mengapa buku pledoi wajib dibaca dan dimiliki? Apa sih keunikannya?
Tidak wajib dimiliki sih, tetapi perlu juga. Hahaha… Saat membaca buku ini, pembaca akan menjadi tahu pandangan saya. Kalau tidak membaca buku ini kita tidak akan saling kenal. Pilihannya mau tahu atau tidak?
Tips menulis puisi ala Bang Koto!
Membaca. Saya tidak bisa menulis puisi jika tidak memulai dengan bacaan. Itu pintu masuk saya dan sejauh ini memang begitu.
Bagaimana kita mengembalikan mood menulis saat mood itu hilang?
Saya kira ini problem semua penulis. Dan itu tantangannya, ujian terberatnya. Saya nyaris menjadi bagian dari sekian banyak orang yang pernah menulis dan dilupakan karena mood sialan itu.
Bagaimana sastra Indonesia hari ini di mata Bang Koto?
Sastra Indonesia bagus dan baik-baik saja, tentu juga mencemaskan. Banyak penulis bagus yang muncul. Banyak penulis lama yang bagus tetap bagus dan makin bagus. Tentu banyak pula penulis buruk yang lahir, menghasilkan karya tidak bagus, dengan motivasi yang kurang oke. Begitulah. Saya mungkin, mungkin loh, ada di posisi melahirkan karya yang tidak bagus-bagus amat (meski menurut saya tentu selalu baik) tetapi selalu mencoba untuk tahu diri.
Sastra kita selalu heboh. Sejauh yang saya tahu selalu begitu. Berlebihan memuji satu-dua karya tertentu atau sebaliknya, dan mengabakan yang lainnya. Yang menarik, buku sastra terus lahir, terus dibeli, dan dikoleksi dan dibicarakan di banyak tempat.
Puisi-puisi di Pledoi Malin Kundang ditulis dari tahun berapa sampai tahun berapa? Puisi yang paling berkesan yang berjudul apa?
Sekitar periode 2006 – 2011. Saya membatasi sampai di situ. Buat saya semua nyaris berkesan. Itulah sebabnya saya susah memilih puisi untuk dikumpulkan dalam buku ini. Ada yang bagus menurut saya, tetapi memang tidak masuk ke dalam buku ini. Selain karena alasan tema dan hal pribadi, saya juga dokumentator yang buruk.
Persepsi Bang Koto tentang puisi?
Puisi adalah media untuk memandang semesta. Menengok masa lalu untuk dirindukan dengan harubiru atau menolaknya. Sekaligus memandang hari ini dan masa depan. Puisi itu pikiran, yang sewaktu-waktu bisa berkembang atau menyempit. Puisi itu media saya, dan nyaris satu-satunya. Puisilah yang mahatahu tentang saya selain Tuhan dan segala perangkat-Nya.
