Sukma tentu bahagia meski dalam beberapa hal. Pertama, ia tahu karyanya benar-benar dibaca dengan sungguh-sungguh oleh orang lain, sebab kekhawatiran Sukma mula-mula yakin menerbitkan buku puisinya, adalah takut tidak memiliki pembaca. Kedua, Sukma merasa tersanjung karena bukunya diapresiasi, apalagi masuk dalam short list KSK, ajang penghargaan sastra bergengsi di Indonesia yang selama ini ia perhatikan.
Sukma sendiri telah bersinggungan dengan puisi sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Sebab sedari SD, Sukma sudah mendapatkan juara di bidang pembacaan puisi. Seingat Sukma, ketika masih SD dan SMP, ia tidak pernah menemukan lomba penulisan puisi. Saat SMA, ia baru mulai intens menulis puisi. Sukma mulai menyadari bahwa ia memiliki bakat menulis puisi ketika ia duduk di bangku kelas X SMA.
“Saat itu, saya dan seorang teman dihukum untuk diinterogasi di depan kelas. Guru tersebut merasa bahwa puisi yang kami buat dituduh menjiplak karya orang lain karena dianggap terlalu bagus untuk ukuran remaja semasa itu. Satu teman saya terbukti menyadur lagu Iwan Fals dan saya terbebas dari kecurigaan, sebab memang puisi tersebut karya saya sendiri,” jawab Sukma melalu Whatssap.
Di masa-masa awal menulis, Sukma banyak belajar dari bahan bacaan di rumahnya. Di rumah, ia membaca Kompas Minggu dan di sekolah ia membaca majalah Horison. Berkali-kali pula Sukma membaca buku Belajar pada Sastrawan Dunia.
“Tidak memiliki guru, tentu membuat saya tidak efektif terhadap bacaan. Semua buku-buku yang ada di Shopping (nama pasar buku di Yogya) saya baca. Dari buku Fira Basuki hingga Abu Nawas. Apa saja yang ada di sana saya beli berdasarkan rekomendasi penjual. Majalah Gadis dan Hai adalah bacaan wajib saya tiap Minggu,” ucap Sukma.
Mimpi menjadi penyair? Sukma pun tidak tahu, tetapi yang jelas, ia sangat mencintai sastra. Akan tetapi, sejak kecil ia selalu berpikir bahwa ia akan menjadi dosen/guru yang juga sekaligus penulis. Menjadi penyair bukanlah cita-cita, seakan Sukma yakin bahwa jalannya memang demikian.
Pengalaman paling unik tentang puisi bagi Sukma adalah perjumpaan dengan teman-teman antardaerah dan antarnegara, baik berkenalan secara nyata maupun melalui gagasan dan karya. Sementara penyair yang digemari Sukma sangatlah dinamis: tidak ada spesifikasi menyukai siapa. Selain menulis puisi, Sukma juga menulis esai dan makalah. Bagi Sukma, waktu yang paling pas menulis puisi adalah ketika gagasan tema sudah matang dalam pikiran.
Jika diamati dengan saksama, buku puisi Pertanyaan-Pertanyaan tentang Dunia Mutia Sukma dan Pledoi Malin Kundang Indrian Koto terdapat kesamaan, yakni buku puisi itu dibuat dalam tiga bagian yang masing-masing terdiri atas beberapa puisi. Menurut Sukma karena proses pembuatan buku ini bersamaan, maka secara teknis memiliki kesamaan.
