Siapa jagoan Bang Koto dari 5 besar KSK? Menjagokan diri sendiri, Sukma, atau siapa?
Semua bagus, semua nyaris punya kesempatan yang sama. Saya menjagokan semua, kecuali buku saya sendiri. Saya tidak punya rasa percaya diri berkaitan dengan karya saya. Saya masih belajar dan ingin memperbaikinya. Saya tidak bisa menilai karya saya, karena itu sangat subjektif. Tentu saya juga ingin hadiahnya, meski menang pun tak akan membawa banyak pengaruh terhadap diri saya dan pandangan orang terhadap karya saya.
Penyair atau penulis yang disukai Bang Koto?
Saya menyukai banyak penyair sekaligus punya alasan untuk tidak menyukainya. Dalam proses belajar, saya kira sah-sah saja. Kalau saya mencintai sungguh-sungguh satu penyair, saya takut masuk perangkapnya dan bisa-bisa menjadi epigonnya. Jika tidak menyukai karya penyair tertentu, karya mereka bagus-bagus, saya bisa belajar banyak dari mereka. Saya keluar-masuk ke dalam karya banyak penulis. Mencari sisi bagus dari karyanya, sekaligus mencari bolongnya agar suara saya bisa hadir di situ.
Yakin menang ga sih bang di KSK? Kalau menang uangnya buat apa?
Saya tidak ada bayangan bisa menang. Sejak awal saya dan istri menduga, bahkan tidak akan ada nama kami di list sepuluh besar itu. Saya pribadi orang yang sering mencereweti event besar macam KSK, bahkan sekarang pun masih. Saya merasa dalam sastra Indonesia, saya tidak ada apa-apanya. Saya juga tidak mengharapkan pengakuan apa-apa. Buku puisi Pleidoi Malin Kundang juga tidak terlalu diminati, seperti penyair lain yang bisa cetak ulang berkali-kali. Sejak awal saya tidak punya target apa-apa terkait sastra. Saya mencintai sastra dan tidak berharap meminta apa-apa lagi dari sana. Saya sudah cukup banyak diselamatkan oleh tulisan, saya kira sastra sudah memberi banyak untuk saya. Saya yang nyaris belum melakukan apa-apa. Publik sastra pun saya kira tak bisa berharap banyak dari puisi-puisi saya. Namun jika ada yang menyukainya, tentu saya bahagia sebab ada yang bisa merasakan suara saya. Uang itu selalu berguna dan pula senantiasa tidak pernah cukup.
Ceritain donk tentang rahasia buku puisi Pledoi Malin Kundang Bang Koto! Kira-kira tawaran estetik bagaimana yang disajikan buat pembaca?
Buku itu berisi tiga bagian. Titik berangkat saya, kampung halaman, perjalanan dan kelahiran baru saya. Itu garis besarnya. Saya menulisnya nyaris tidak memikirkan pembaca. Puisi-puisi tersebut lebih sebagai catatan dan pandangan saya terhadap peristiwa saya, lingkungan sekitar saya, dan dunia sejauh yang saya pahami. Puisi saya mungkin tampak personal, tetapi saya juga punya visi terhadap perubahan.
