“Gimana Bu Menik, semalem lihat lagi?”
Sekonyong-konyong aku jadi seleb, semua tetangga bersaing menemuiku tiap pagi untuk dapat berita terbaru.
“Nggak, saya langsung tidur,” jawabku malas.
Memangnya aku tukang gosip! Wajah kecewa seketika terpasang merata di paras mereka. Lagipula, bagaimana hendak diadili jika saksinya hanya aku seorang. Bisa-bisa aku disangka memfitnah.
“Ingat ya, saya tidak iri sama dia. Tidak punya urusan apa-apa, ini cuma gara-gara keceplosan. Agak nyesel juga sih!”
“Ih, gak apa-apa lagi. Malah bagus! Jadi kita-kita tahu, bahwa uang belanja yang selama ini hilang, bukan diambil suami, bukan dicuri anak. Tapi ditilep tuyul!” Bu Nani selalu semangat membahas hal ini.
“Tapi saya nggak enak, kan belum terbukti. Nanti dikira saya ada apa-apa sama keluarga Sofiah.”
“Belum terbukti gimana, katanya Bu Menik lihat sendiri.” Bu Paras mendelik.
“Saya berani sumpah apa pun, saya bener-bener lihat anak kecil botak, telanjang, tangannya panjang berlari ke rumah Sofiah. Tapi saya gak tahu itu makhluk apa, dan apa memang peliharaannya Sofiah. Saya cuma lihat sampai situ.”
Seperti yang lalu-lalu, itulah penjelasanku pada pemburu berita di warung sarapan Nyai Neti. Perempuan tua pemilik warung yang kami panggil Nyai — artinya nenek, itu makin hari makin ramai pembelinya berkat berita yang kutiup sejak bulan lalu.
Sekira empat puluh hari ke belakang, aku keluar rumah malam hari. Karena suamiku selalu lupa membuang sampah, maka aku sendiri yang melakukannya. Berjalan kaki ke ujung lorong pada jam 9 malam, belum begitu larut tapi sudah sangat sepi. Tumben sekali, jika tahu akan sesunyi itu, aku tak akan nekat keluar meski harus menahan hidung menanggung aroma sampah.
Tiba di depan tempat sampah besar yang diperuntukkan bagi warga Lorong Remaja — di kotaku orang-orang lebih mengenal nama lorong daripada nama jalan — nampak bayangan seorang anak kecil tengah duduk di atas salah satu sisi bak sampah itu. Firasatku mulai tak enak, mana mungkin malam-malam begini ada anak yang dibiarkan orangtuanya bermain sendiri di tempat sampah.
Benar saja, begitu anak itu menoleh padaku, seringainya tak seindah anak-anak seharusnya. Sama sekali tak lucu, justru menyeramkan. Tapi aku tidak lari, justru ia yang melompat dan lari menjauhiku. Aku pun ikut berlari, mencari tahu ke mana ia pergi. Dan, belum lagi aku lelah, bocah menyeramkan itu telah hilang menembus sebuah rumah. Rumah janda muda beranak lima, Sofiah.
“Masuk akal sih, anaknya lima, suami tidak ada. Dia cuma karyawan laundry, berapa sih gajinya? Paling cukup makan dua hari,” ketus Bu Paras saat mendengar ceritaku dari Nyai Neti.
