“Cerita Baiturrahman belum selesai, Yah. Aku pernah bertemu Reno, dia sekarang jadi polisi.”
Terus terang, aku kaget mendengarnya.
“Ayah pasti kenal Hidayat Nur Wahid, Din Syamsudin, bahkan personel Band Wali adalah orang-orang jebolan pesantren.
“Itu lain soal,” elakku.
“Ayah harus lihat dulu pesantrennya, nanti sore kita ke sana.”
Aku melengos mendengar instruksi Hana. Sejak kapan perempuan menitah laki-laki.
“Arif akan aku daftarkan ke sana, kalau ada yang untuk santri perempuan, Liani juga akan kumasukkan.”
“Nanti jadi apa anak-anak kita?”
“Bisa jadi apa saja. Dosen, pengusaha, tentara. Sudah banyak kok yang membuktikan. Ayah saja yang kurang piknik.”
Aku hendak memotong, tapi Hana segera melanjutkan bicaranya. “Apa Ayah tahu siapa pengide utama Pesantren Pucuk ini?” tahu-tahu ia telah memberi nama sendiri.
Belum sempat kujawab, perempuan cerewet itu meneruskan lagi. “Guru ngaji di Masjid Al Jannah. Yang dulu membuat kita heran, ada anak muda berani melewati penjaga tinggi besar di depan sana. Yang dengan pede menawarkan diri jadi marbot di masjid yang hampir jadi museum.”
Aku menuju kulkas lagi.
“Dan yang pasti bikin Ayah makin naik tensi. Ternyata dia lulusan pesantren. Dia dulu santri Tahtul Yaman di Sebrang. Ternyata yang dia buat jauh lebih luas pengaruhnya daripada yang kita lakukan dari SMP sampai sekarang. Aduh, aku malu, Yah.”
Sambil terisak dibuat-buat, Hana menjauh dariku, membuka pintu hendak keluar.
“Loh, mau ke mana?” tanyaku heran.
“Ayah buka kulkas mau ambil semangka, ‘kan? Ini aku mau beli, yang tadi sudah habis kumakan.”
Baru aku sadar, pintu kulkas sudah kubuka dari tadi.
Keterangan:
[1] Berdiri!
[2] (ke) sebelah meja
Biodata Penulis
Syarifah Lestari, owner warung online Tigaes. FB: tigaes. Twitter @iluvtari. Narahubung 085266464774
