“Sekarang sudah banyak orang yang tobat, Yah.”
Istriku pasti senang bukan main. Kami tinggal berjarak selemparan batu dengan sebuah lokalisasi terbesar di Jambi. Tidak ada pilihan, karena di sinilah almarhumah Mak melahirkanku, dan bersama almarhum Bapak, membesarkanku. Orang tuaku bukan bagian dari mereka, Mak dan Bapak bahkan tidak mencari nafkah yang ada hubungannya dengan kegiatan di lokalisasi. Kami hanya tetangga yang saling menjaga ketentraman masing-masing.
“Apa cuma aku yang baru tahu sekarang? Setelah mereka semua datang dan menetap.” Aku benar-benar tak habis pikir.
“Sepertinya begitu. Berarti Ayah kurang bergaul, masak setiap hari kedengaran gaduh-gaduh di sana Ayah tidak tahu, bahwa sedang dibangun sesuatu?”
“Ayah pikir masih bongkar-bongkar. Ayah tidak mau lewat situ, atau cari tahu berita di sana. Khawatir kena imbas kerusuhan.”
“Ternyata kerusuhannya tidak ada,” Hana terkekeh. “Mereka terima kok, pada dasarnya semua manusia ingin hidup normal.”
Aku setuju untuk yang itu. Meski nyatanya para pekerja seks di Payo Sigadung banyak yang beralih ke bisnis online, tetap saja barang itu yang dibisniskan.
Kudengar juga banyak LSM dan mitra dinas yang memberikan mereka pelatihan keterampilan, semoga lengkap dengan modal usahanya. Namun, perkara pesantren, bisa-bisanya aku kebagian di ujung cerita, dari obrolan anak-anakku di depan TV tadi pagi.
Payo Sigadung, kampung PSK yang biasa disebut warga Jambi dengan Pucuk, diubah menjadi area pesantren? Tentu mulia sekali. Tapi tidak bagiku.
***
Namanya Arul Santoso, lulusan pesantren ternama di Jawa, yang katanya dengan nilai terbaik. Ia adalah guru Ibadah Syariah yang bisa mengajar Bahasa Arab, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah Islam, Matematika, bahkan Kesenian.
Jika tak keburu diisi guru lain, kelas dengan jam belajar yang gurunya tak hadir akan segera didatanginya.Tanpa pecut di tangan, tanpa kumis melintang, ia bisa membisukan tiga puluhan anak di kelas mana pun.
Tidak ada satu anak pun yang belum pernah mencicipi tangan lebar Pak Arul. Kalau tidak ditampar, dicubit, atau ditonjok sekalian. Ia juga tak mengenal gender, hanya air wudu yang bisa menghalanginya dari memukul anak perempuan.
Hari itu ingar bingar kerusuhan Mei 2008 sampai ke Jambi. Semua orang membahas kebakaran, pembantaian, demo, dan segala macam berita yang bertiup dari Jakarta. Tak terkecuali siswa-siswi SMP Baiturrahman.
Adnan tengah mendiskusikan pidato presiden dengan Hana. Sayang, ia tidak melakukan itu di kursinya sendiri, dan tidak pula mengeluarkan amunisi Bahasa Arab di mejanya. Padahal itu sudah menjadi peraturan utama di Baiturrahman; setiap jam pelajaran baru dimulai, siapkan semua perlengkapan yang berhubungan dengan pelajaran tersebut, meskipun guru bidang studi belum masuk ke kelas.
