Monday, June 1, 2026
Home > Literasi > Cerita > PESANTREN PUCUK

PESANTREN PUCUK

Suami Istri

Keayuan Hana membuat Adnan lupa. Lalu terjadilah, ia mendapat tanda mata yang tak pernah terlupakan, bahkan hingga Adnan punya dua anak

Dalam kebisingan kelas yang khas, tiba-tiba pintu didobrak.

“Siapa yang menutup pintu?” Pak Arul melotot, berdiri di tengah bingkai pintu yang dua daunnya kini terbuka penuh.

Tidak ada yang menjawab. Semua terperanjat, pucat, lalu tak sanggup bicara.

“Sengaja menutup pintu? Supaya tidak ketahuan kalau tidak ada gurunya?” lalu ia menyebutkan satu per satu siswa yang kedapatan tidak duduk di kursinya sendiri.

Sebenarnya Adnan bisa saja tetap berada di kursi yang ia duduki, kalau saja yang di sebelahnya bukan seorang perempuan, ia tentu lebih selamat. Laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan duduk bersebelahan dengan meja yang sama.

Tapi tetap saja, di meja depan wajahnya tidak tersedia tetek bengek berbau Bahasa Arab. Itu berarti ia belum siap belajar, dan lebih siap dihajar.

Janibal maktab![2]” teriak Pak Arul lagi.

Adnan dan sebelas siswa terhukum lain bergerak ke samping meja mereka. Tidak perlu instruksi selanjutnya, mereka sudah sangat paham, apa yang diinginkan Pak Arul.

Adnan yang berada di sisi kiri mengangkat meja dengan tangan kanannya. Hana di sampingnya mengangkat sisi lain meja dengan tangan kiri. Itu satu meja menyambung yang biasa dihuni dua siswa dengan kursi terpisah.

Sedikit berisiko, Adnan mengajak Hana bertukar posisi, ia mengorbankan diri mengangkat dengan tangan kiri. Hana dengan senang hati pindah ke tempatnya.

Pak Arul tersenyum sinis. “Biar dibilang romantis? Saya doakan kalian besok menikah, biar tidak sia-sia pengorbanan kamu, Adnan,” katanya yang mungkin saja tulus. Nyatanya sekarang Hanalah yang memberi Adnan dua anak.

***

“Memangnya kenapa kalau jadi pesantren, Yah?” tanya Hana.

“Kau ingat Pak Arul?”

Istriku terkekeh. “Siapa yang bisa melupakan mister killer itu.”

“Dia lulusan pesantren!”

“Lalu hubungannya?”

“Kalau saja si Arul itu lebih pintar, ia pasti sudah jadi Abu Jihad kek, Abu Kepak, atau apalah yang kerjaannya menculik, dan merakit bom.”

“Hus! Sembarangan.” Hana melotot, jarang-jarang ia begitu.

“Nyatanya kita jadi korban penganiayaan selama tiga tahun! Kalau saja dulu sudah ada KPAI.”

Hana terkekeh lagi, kedua tapak tangannya menangkup menutupi mulut. “Jangankan melapor ke komisi-komisian, apalagi ke polisi. Lapor bapak sendiri saja malah ditambahi.”

Ia terus tertawa. Seolah kenangan buruk yang terus menghantuiku itu adalah sesuatu yang lucu.

“Kau ini!” aku menghardiknya.

“Ayah tak perlu khawatir, justru dengan pesantren itu di tengah-tengah kita, kita bisa tahu apa saja yang diajarkan di sana.”

Translate »