Thursday, May 6, 2021
Home > Literasi > Cerita > PESANTREN PUCUK

PESANTREN PUCUK

Suami Istri

“Apa-apaan ini, pesantren di tengah kota?” Tensiku pasti naik lagi. Segera kutuju dapur, membuka kulkas, memburu semangka di dalamnya.

***

Qum![1]

Plakk!

Telapak tangan nan lebar dan kokoh itu menyetempel pipi Adnan. Tertinggal tanda merah di sana. Tepat di atas rona, rahang remaja itu menegang.

“Mau nangis?” bentak Pak Arul lagi. “Dasar bencong!”

Adnan diam saja, kebencian jelas membara di matanya. Ia tak menunduk, justru ingin menatap balik, bahkan ganti menampar. Dan itulah kesalahan terbesarnya hari itu, yang membuat Adnan mendapat tambahan pukulan.

Plakk!

Tamparan kedua. Memaksa Adnan menjatuhkan pandangannya ke lantai sekolah.

“Mau jadi apa kamu? Sudah masuk kelas, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk belajar. Apa bapakmu mendaftarkan kamu ke sini untuk lari-larian, untuk pacaran? Hidup itu sebentar, jangan cuma diisi main-main! Dengar?” terus berteriak.

Hentakan demi hentakan nada, diselingi dentuman hasil aduan telapak tangan Pak Arul dan meja di depan Adnan membahana di ruang kelas.

Semua siswa terdiam. Adnan siswa kelima dari total belasan siswa yang akan mendapat sanksi hari ini. Dosa mereka sama, tidak siap belajar.

Adnan tertangkap mata Pak Arul sedang tidak di kursinya. Bukan sedang berlari seperti Dody. Bukan pula bermain bola kertas, seperti Reno dan Hasan. Nahas saja yang membuatnya diperlakukan lebih buruk dari Ima yang tak membawa Kamus Bahasa Arab, atau Pipin yang bahkan tak tahu di mana kamusnya berada.

Seperti itulah jika mereka lalai menyiapkan diri. Para remaja itu kebanyakan dihinggapi penyakit lupa bahwa di sekolah swasta, tidak ada jam kosong. Tidak ada guru absen yang tidak digantikan. Akibat dari kealpaan yang sering berulang itu, tidak pernah kurang dari sepuluh tersangka yang mendapat sanksi.

Facebook Comments