Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

Tanah kemarau berhamburan, ditindih kaki sapi-sapi kelaparan di pematang. Udara panas menyiram, begitu pula angin sebagai pengantar kabut. Tanah ke mana-mana, menyebar baur debu ke segala isi kawasan Telenteyan. Nemor[2] datang menderai kesenyapan. Sementara bunga-bunga harapan mulai melayu di pembaringan Kara, dalam sapu tangan istrinya yang kuyup dan kusam. Di pelupuk mata itu berkabung cahaya lampu damar dan sorotannya yang hanya cukup menyinari amper rumah, samar-samar terlihat, Nurjannah mendekap suaminya. Setiap kilatan mata Kara memenuhi kelopak matanya. Tak tahan, titik-titik air ikut berdesak bocor. Ya Allah, rahmatilah suamiku, tabahkan hatinya. Sambil terisak lirih.

Di mana Kara terlentang, tubuh kurusnya seperti sebuah barisan tulang yang hanya terbungkus kulit. Sudah 6 tahun berjalan, penyakit yang dideritanya itu tak kunjung sembuh. Dari dhukon[3], tukang ramal, habib hingga dokter yang pernah didatangi tak pernah memberikan kesimpulan jelas, penyakit apa sebenarnya yang diderita Kara. Mereka semua berbeda-beda penjelasan mengenai itu, ada yang mengatakan, panarajhut, parobu, seleb[4] dan macam-macam. Begitu pula ramuan, obat, air minum dan segala macam sarat sudah dicari kemana-mana, ke tempat keramat, ke polo[5] tak berpenghuni di tasek mereng[6] dan sudah berpuluh-puluh kota didatangi, tak pernah didapati obat mujarob dan mengenai untuk penyembuhan Kara.

***

Penyakit napa sebenarnya yang menimpamu, Kak…?” Istrinya selalu meratap. Begitu pula dua anaknya yang beberapa waktu lalu sudah putus sekolah karena tidak ada yang  menanggung biayanya lagi. Sedang ibu Kara sendiri sudah terlihat lemas di kamar sebelah. Belum lagi tetangga yang berambisi menggunjing-gunjingkan penyakit yang dideritanya selama ini. Celetuk-celetuk tetangga mengumbar.

“Kara kena santet!”

“Bukan, kodheka!”

Seher!

“Lihat, makanan saja sudah tak bisa masuk ke mulutnya”

“Apalagi sebulanan ini, saya dengar, ia sering meraung-raung seperti ada yang menginjak-nginjak tubuhnya!”

“Kayaknya ya, kuku-kukunya juga sering mengeluarkan nanah hitam“

“Aneh ya!”

Semua bergunjing soal itu. Terutama jika di sore hari, 4, 5 sampai 7 orang di warung rujak Bu Karma seperti tak mau kehilangan celoteh daripada mengebik-ngebik perbincangan tentang penyakit Kara, malah semakin hari semakin banyak orang yang membawanya, entah angin apa yang merisaukannya.

***

Bagi Nurjannah, gunjingan semacam itu bisa jadi penyakit yang menyelinap pelan-pelan ke daun telinganya. Apalagi jika dihubung-hubungkan dengan masa lalu yang tidak diketahuinya; sang laki yang hanya sebagai tukang ojek serabutan di kota kelahirannya selama ini tampak biasa-biasa saja, jauh sebelum menikah bahkan, suaminya sudah bekerja di kota. Namun, dia sendiri tidak pernah tahu akan hal itu, dan kenapa kemudian banyak orang berbisik-bisik “Kara itu bajingan!”

Translate »