Wednesday, May 19, 2021
Home > Literasi > Cerita > Schatzi

Schatzi

Schatzi, kemari!

Schatzi, jangan pergi!

Aku banyak membuatmu sedih.

Maafkan aku!

Aku nggak akan bisa, hidup tanpamu.

Dan aku tak mau.

 

Bait per bait lirik lagu Slank mengalun indah di kamarku. Membawaku menerawang jauh ke dalam rentetan peristiwa yang kulalui bersama laki-laki, yang kini aku tak tahu di mana keberadaannya. Laki-laki yang dapat membuatku begitu terkagum-kagum karena kepribadiannya. Laki-laki yang dapat membuatku merona karena bahagia dan meneteskan air mata untuk setiap kepahitan yang diberikannya.

Dulu, sebelum aku merentas hari untuk sesuatu yang kusebut sebagai tujuan, aku pernah berpikir melabuhkan hati pada sebuah nama. Ternyata itu hanya membawaku pada sebuah keterpurukan. Cukup lama rentetan waktu yang kuhabiskan hanya untuk bercengkerama dengan sepi yang menyelimuti diriku dalam malam hingga dinding kokoh hatiku takkan mampu disentuh siapa pun.

Tet..tet..teeeeeeeeeett..

Suara bel,membuyarkan lamunanku.

“Ya, bentar “ ucapku sembari tergesa-gesa membukakan pintu apartemenku.

Dari lubang pintu, kulihat seorang lelaki dengan wajah tertutup beberapa kuntum mawar putih. Jantungku berdegup kencang. Firasatku mengatakan sesuatu. Kuhentakkan handel pintu. Aku tahu siapa yang berdiri tepat di hadapanku.

Wajah yang sudah lama tak kulihat, baik dalam mimpi maupun lamunan. Masih dengan mimik serius yang dimilikinya ditambah sebingkai kacamata menyembunyikan keteduhan matanya. Masih dengan gaya berpakaian serta tatanan rambut yang sangat kukenal. Sejak awal meski ditutupi dengan mawar putih, aku tahu persis cuma lelaki itu yang tahu tentang rahasia mawar putih dan anganku.

Aku menatapnya penuh tanda tanya, ia membalasnya dengan seulas senyum.

“Hai, apa kabar?” tanyanya sembari tak jua melepas senyum manisnya itu.

Aku tak tahu harus memberi jawaban seperti apa untuk pertanyaan yang ia ajukan. Aku masih membenahi pikiran agar bisa percaya kalau lelaki itu ada di sini. Bahwa ia menyapaku dengan suara yang dulu sempat menjadi nyanyian dalam jiwaku.

Facebook Comments