“Memangnya kau tahu?”
“Kan belum dimulai. Tapi dari informasi yang kudapat, mereka juga pakai kurikulum dari dinas pendidikan. Lagi pula mereka itu kan siswa mengaji yang dulu di sana itu.” Hana menunjuk entah ke mana, hanya dengan mengangkat dagunya sedikit ke kiri.
“Yang jadi pondok tahfiz itu?”
“Iya, dari ngaji biasa, jadi menghafal, sekarang jadi pesantren. Malah warga ikut nyumbang dana kok, Yah.”
“Akan tetapi, aku belum yakin. Lihat saja di berita-berita itu, pesantren diserbu Densus 88 karena jadi sarang teroris.”
“Hati-hati, Yah. Bisa jadi fitnah itu. Kita orang Islam masak tidak berpihak ke agama sendiri.”
“Entahlah. Aku hanya trauma. Mengapa orang yang diajari agama malah aneh-aneh kelakuannya. Apa karena mereka sebelumnya anak-anak terbuang?”
Hana mengernyit, jelas tak mengerti maksudku.
“Kau pasti ingat Reno, yang mengejar Dodi dengan pisaunya.”
Hana mengangguk.
***
Hari lain di Baiturrahman. Reno dan Dody terlibat debat yang rumit. Mereka mendiskusikan rasanya hidup di penjara, lalu tentang premanisme. Pada ujungnya, entah dari jalur mana, keduanya saling memanggil satu sama lain dengan nama bapak dan ibu mereka. Tak cukup sampai di situ, malah dengan embel-embel karangan yang tak manusiawi. Adu jotos pun tak terelakkan. Alih-alih memisahkan, siswa lain dari kelas yang sama maupun yang berbeda, justru menyemangati keduanya. Termasuk Adnan.
Pukul-memukul, tendang-menendang. Menit-menit berlalu tanpa menampilkan pemenang. Reno jenuh, ia berlari meninggalkan arena diiiringi sorakan “huu” dari para penonton.
Saat Dody merasa telah memenangkan perkelahian, tak dinyana Reno datang menerobos kerumunan. Sambil berlari ia menghunus pisau. Untunglah Adnan dan beberapa temannya menyadari, dengan kewarasan yang tersisa, mereka menangkap Reno yang nyaris saja telah mendapatkan punggung Dody.
Yang satu menggelepar-gelepar dalam himpitan teman-temannya. Satu lagi berlari sekencang-kencangnya, meski tak ada seorang pun yang mengejar.
Esoknya kedua orang tua dipertemukan. Kepala sekolah dan walikelas menjelaskan panjang lebar riwayat kenakalan remaja milik Dody dan Reno. Diakhiri permohonan maaf, karena rapat guru memutuskan, dua anak itu tak bisa lagi melanjutkan pendidikan di Baiturrahman.
Tidak ada tangis sedih ataupun hiruk pikuk kegembiraan. Semuanya biasa-biasa saja. Hari-hari berlalu setelah itu tetap dengan keributan-keributan kecil. Teriakan Pak Arul, hantaman meja, dan kabar meyakinkan bahwa Reno dan Dody akhirnya dimasukkan orang tua mereka ke pesantren.
***
“Pesantren itu tempat anak-anak bermasalah. Jadi, setelah lokalisasi yang menghasilkan para perempuan tak berharga diri, sekarang tanah itu diisi laki-laki muda yang tak diinginkan keluarganya.”
