Monday, May 10, 2021
Home > Literasi > Cerita > Langit Mimpi

Langit Mimpi

cerpen nana sastrawan

AKU selalu tertawa ketika merasakan kepedihan dalam hidup ini. Tertawa membuatku senang, meninggalkan kemarahan dan dendam dalam hati. Hidup dalam dunia yang meriah seperti sekarang ini tak berguna jika setiap hari hanya menangis dan meratapi nasib. Segalanya sudah tersedia di dunia ini. Aku harus menikmatinya. Tertawa juga bagian dari kesehatan, banyak ahli kedokteran menyatakan bahwa tertawa dapat membuat awet muda, menjauhkan dari stres dan memudahkan memiliki banyak teman.

Dulu, ketika pertama kali aku melamar pekerjaan setelah lulus kuliah dan selalu gagal, aku tertawa. Aku tidak ingin kegagalan itu membuatku putus asa dan pemurung. Aku terus berusaha untuk mendapatkan pekerjaan, sebab menjadi pengangguran itu sangatlah tidak enak, membebani orang lain. Tetapi, aku selalu gagal. Entah, padahal aku lulusan kampus ternama, nilai-nilaiku bagus, penampilanku juga baik.

Kegagalan-kegagalan itu membuat orang-orang di sekitar tidak mempercayaiku lagi, terutama keluarga, mereka sangat kecewa terhadap diriku.

“Ayah sudah habis-habisan untuk biaya pendidikanmu!”

“Iya ayah. Aku sedang berusaha terus mendapatkan pekerjaan.”

“Mau sampai kapan kamu jadi pengangguran? Harta ayah semua habis olehmu dan Ibumu!”

Wajah lelaki itu terlihat lebih kusut saat ini. Mungkin akibat terlalu memikiran ibu yang sudah hampir setahun bolak-balik rumah sakit, tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Dia juga sudah membawanya ke mana pun, mengobatinya dengan apa pun, tetapi malah semakin parah. Dia juga pernah ditipu oleh dukun praktek bodong, ratusan juta melayang, namun dia tetap tidak putus asa untuk menyembuhkan ibu. Rasa cintanya telah membuat ayah menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab.

“Ayah harap kamu mengerti kondisinya sekarang,” ucap ayah.

Itulah ucapan terakhir ayah kepadaku. Setelah itu dia tidak pernah bicara lagi sejak kematian ibu. Dia menjadi pendiam dan pemurung. Hidupnya sehari-hari hanya memandang foto pernikahan di dinding kamarnya hingga pada akhirnya dia juga meninggal dalam keadaan sedih. Rasa cintanya telah membunuh dirinya sendiri. Itulah akibat jika tidak tertawa, maka aku pun tertawa menerima kepedihan itu dalam hidup ini. Setelah tertawa semuanya berjalan normal kembali, aku tidak merasakan sakit di dalam dada yang menyiksa.

Facebook Comments