Tuesday, June 2, 2026
Home > Literasi > Cerita > Langit Mimpi

Langit Mimpi

cerpen nana sastrawan

“Yang terakhir kamu beli hanya beberapa lembar saham saja. Kalau puluhan, kamu bisa menjadi kaya mendadak, perempuan-perempuan cantik akan dengan mudah didapat, bahkan mereka menghampiri sendiri.”

Aku terdiam, pikiranku tiba-tiba teringat Dayang, dendam mulai muncul.

“Mobil-mobil mewah juga tinggal tunjuk sesuka hati,” kata Pak Gufron ketika melihatku masih terdiam.

“Caranya?” aku mulai terusik dengan perkataan Pak Gufron, sahabat ayahku.

Pak Gufron tersenyum lebar, dia seperti sedang melihat seorang wanita cantik dengan dada dan pantat yang montok, matanya terlihat berkilau menatap padaku. Sementara hatiku mulai diliputi dendam kepada Dayang. Akan aku tunjukan padanya bahwa aku adalah laki-laki yang tepat dan dia telah salah memutuskan hubungan denganku. Setelah Dayang menelepon, aku segera melesat dengan sepeda motor menuju rumahnya, di sana aku lihat dia sedang bercumbu dengan seorang laki-laki.

“Jadi ini maksud semua itu?”

“Aku sudah memutuskan!”

“Tapi Dayang… Aku sangat mencintaimu!”

“Aku tidak. Aku juga punya masa depan, tidak ingin hidup dengan laki-laki pengangguran dan sial seperti kamu!”

Sial? Aku laki-laki sial? Mengapa Dayang tega mengucapkan itu semua kepadaku setelah bertahun-tahun pacaran, setelah segalanya telah aku berikan? Bahkan, tidak sedikit uang yang aku keluarkan hanya untuk mengikuti obsesinya berpakaian, membeli alat kecantikan dan lain-lain yang membuat kantongku kempes. Kulihat laki-laki itu; pakaiannya, sepatunya, jam tangannya, telpon genggamnya, mobilnya dan wajahnya. Sialan!

“Gimana?” tanya pak Gufron membuyarkan lamunanku.

“Gimana apanya Pak?” tanyaku balik.

“Loh… gimana toh? Tadi sudah Bapak jelaskan.”

“Mmm… baiklah!”

“Hahahahaha… itu baru laki-laki!”

Pak Gufron tertawa senang, dia menepuk-nepuk pundakku yang masih terdiam. Namun, mendengar tawanya yang terbahak-bahak dan tidak berhenti akhirnya tawaku ikut meledak. Bayang-bayang Dayang perlahan memudar, bermunculan bayang-bayang dunia gemerlap mengitari diriku. Aku menjadi kaya-raya, perempuan akan bertekuk lutut padaku, dan aku tidak akan terhina di mata orang-orang. Aku adalah anak muda yang kaya-raya, pembisnis sukses, tanpa harus bekerja, uang datang dengan sendirinya. Aku tertawa terbahak-bahak.

Setelah kesepakatan itu, pak Gufron meminta yang aneh-aneh. Dari uang tunai, sertifikat tanah, dan harta benda lainnya. Katanya, pasar bebas sedang ramai, aku harus membeli berlembar-lembar saham agar keuntungannya berlipat ganda. Ini kesempatanku untuk menjadi orang muda yang kaya raya. Eksekutif muda! Untuk memenuhi hasrat itu semua, aku ikuti saran pak Gufron, toh dia sudah membuktikan dengan memberiku tumpukan uang ratusan ribu. Tentu, yang ini pun akan menghasilkan yang lebih besar lagi. Kini, aku menyewa satu kamar untuk tempat tinggal, kemudian kurebahkan tubuh di atas kasur, sambil menatap langit-langit kamar, aku melihat langit-langit mimpi menjadi biru, hujan duit berjatuhan. Aku tertawa.

Translate »