Tuesday, June 2, 2026
Home > Literasi > Cerita > Langit Mimpi

Langit Mimpi

cerpen nana sastrawan

Suatu hari, sahabat ayahku datang ke rumah. Wajahnya berseri-seri menemuiku, dia juga membawa titik terang dalam kebuntuan dan kesepian dalam hidupku.

“Daripada nyari kerja nggak dapet-dapet, mending bisnis!”

“Bisnis?”

“Iya. Sekarang banyak anak-anak muda yang sukses berbisnis, kaya raya, punya pacar cantik, mobil mewah, perusahaan dengan banyak anak buah, dan kerjanya cuma kelunyuran.”

“Memangnya bisnis apa?”

Dia menyeruput kopi yang aku suguhkan, menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. Wajahnya semakin berseri-seri mendengar pertanyaanku itu, seolah dia memang yakin akan keberhasilan idenya untuk membuatku menjadi anak muda yang sukses dan kaya raya.

“Jual beli saham.”

Aku masih bingung dengan jawabannya. Dia kemudian menjelaskan caranya tentang jual beli saham perusahaan yang aku sendiri sangat tidak mengerti. Karena ucapannya yang penuh dengan keyakinan, apalagi ada banyak keuntungan yang di dapat hanya dengan berinvestasi tanpa kerja berat, aku menjadi tertarik. Kami pun berjabat tangan, kemudian tertawa merayakan kesepakatan.

Itulah awal tertawaku yang sangat menyenangkan. Melepaskan pikiran-pikiran yang semerawut hanya dengan membuka mulut, dan mengeluarkan suara, segalanya beres. Semakin hari tertawaku semakin kencang, tetangga-tetanggaku juga mendengar suara tawaku, mereka ikut tertawa, orang-orang yang lewat depan rumahku mendengar tawaku, mereka juga tertawa mengikutiku. Semua yang melihatku tertawa selalu ikut tertawa. Hingga aku menjadi terkenal, dan mendapatkan julukan si Dewa Tawa.

Pada suatu hari, Dayang menelponku. Wanita yang sudah lama mengisi hatiku sejak di kampus dulu.

“Kita putus!”

Aku membanting telpon. Kurang ajar! Bagaimana bisa dia dengan seenaknya memutuskan hubungan denganku. Aku sangat sayang sekali padanya, tidak ada hari dalam pikiranku yang selalu mengingat namanya. Apa pun keinginannya selalu aku ikutin, hingga aku menghabiskan banyak waktu, tenaga, uang untuk dirinya. Aku terduduk lemas di sofa, kuingat kembali wajah Dayang yang selalu tersenyum ketika bertemu denganku. Sikap manjanya membuatku tak sanggup untuk jauh walaupun hanya sejengkal. Mengingat wajahnya yang selalu tersenyum, aku ikut tersenyum, kemudian tertawa.

“Hahahaha… Bagaimana? Mudah bukan uang di dapat?” Pak Gufron tertawa terbahak-bahak sambil menyerahkan setumpuk uang ratusan ribu.

Aku tak percaya, begitu cepat uang bisa kudapat hanya dengan tertawa. Rupanya, bisnis jual beli saham yang aku jalankan telah membuahkan hasil. Kata Pak Gufron perusahaan untung besar di pasar bebas, harga saham meningkat dan aku masih tidak mengerti dengan apa yang dia jelaskan.

Translate »