Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

“Mau mencuri saja, mesti keluar kota!”

“Apa tak cukup, selingkuh dengan bini orang!”

“Sudah maling, bajing lagi!”

“Bukannya istrinya sendiri, si Nurjannah hanya gadis desa yang lakunya hanya di rumah, di dapur, dan di kasur saja! Pantaslah, ia tak pernah tahu ke mana suaminya kerja!”

“Kini habislah dia, menanggung kutuk perbuatannya!”

“Begitu memang, kalau orang kerjaannya cuma nyepir orang lain!”

Memang tak pernah ada kecurigaan di hatinya. Nurjannah tetap setia. Bahkan dia tak ingin mencari-cari kesalahan, jika pun semua itu terjadi. Prasangka buruk tak akan mambuatnya lemah sebagai seorang istri.

“Kasihan sekali istrinya ya…,”

“Apalagi harus menanggung dua anaknya!”

“Ibunya lagi sudah tua”

“Terus siapa lagi yang bisa menanggungnya”

Bila omongan itu sudah memenuhi kerangka dadanya, tak jarang dia memang merasa salah sendiri dan hanya menangis adanya. Untung, selama ini keluarga dari Jawa masih sempat diam-diam menampung sebagian hidupnya, mulai dari biaya obat, makan, minum dan kebutuhan sehari-hari. Bahkan seluruh pengobatan, Bang Mukmin, yang berani membawanya ke rumah sakit mahal di Surabaya dan Situbondo, menghabiskan biaya puluhan juta rupiah selama bulanan. Sebagai orang terpelajar, pamannya ini, tentu tak terlalu percaya dengan umpatan-umpatan sebagian orang kampung.

“Kara hanya perlu dibawa ke dokter ahli,” katanya kepada keluarga.

“Bukan ke dukun dan tukang ramal!”

Berbeda dengan keluarga atau tetangga dekat di kampung. Meski tak ada yang mampu mengelak, mendengar Bang Mukmin, secara diam-diam mereka tetap silih berganti pergi ke dhukon[7]. Alasannya, kami biasa minta petodhu[8] ke Nye Tariye, ke Salamet. Apalagi kalau ingat Ju’ Mesem, pengesepuh kampung ini, mata orang-orang kampung pasti berbinar, karena setiap penceritaannya tentang hal ihwal yang perlu kami kerjakan selalu berhasil. Beliau selalu punya sugesti yang baik. Meski bukan peramal, petunjuknya tentang orang-orang pintar selalu benar.

***

Ketika semua orang sibuk, Kara tak kunjung sembuh dan sudah dibawa dan dicarikan tambha[9] ke mana-mana. Bang Mukmin sendiri terlihat putus asa dan menyerah, begitu pula sebagian yang lain. Jangankan pil, obat yang harganya ratusan ribu dan jutaan pun sudah pernah ditelan, tak membuahkan apa pun, kecuali hanya anggapan, dengan obat-obat itu  malah Kara tambah kurus dan kering. Nyaris tak berkebik lagi bibirnya.

“Coba tak ada minuman bedak ini,” Ma’ Sarwa ikut pula menimpali, sembari menunjuk-nunjukkan segelas air warna kuning yang sedang dipegangnya dari tadi. Air ramuan yang dicampur daun baluntas, bedak, yang didapatnya dari Nye Murjam di seberang, “pasti tubuhnya telah kering!”

Translate »