Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

Kemarin sore ketika senja hampir anslup, Kara pun sebenarnya juga telah dimandikan di setiap pertigaan jalan kampung yang menjulur ke bukit, sungai dan laut. Sekujur tubuhnya dibalut daun-daun kelor, yang satu dua daunnya dipurut menimbun tanah yang mulai menggenang air.

mosem reya, mosem nemor na’

panyake’ elang bilhe e anyo’ aeng

samogha’a ba’na cepet bhares

Entah doa apa yang dibaca Ma’ Sarwa, bibirnya meletup-letup. Sambil menghempas-hempaskan daun-daun itu ke tubuh Kara. Tak ada yang mengerti dan tahu dia melakukan pekerjaan apa yang seaneh itu. Meski sebelum-sebelum itu di tanah seberang, pernah ada yang menganjurkan pemandian itu bagi orang yang kena penyakit nemor ka nemor[10], barangkali karena bumi terlalu kering sehingga tapak dhandang[11] kehausan.

Bagi Bang Mukmin, semua itu aneh saja, “Pekerjaan tak waras!” bisiknya sengit. Tapi si Ma’ tetap saja tidak hirau, “Ini sudah lakona[12] jujuk-jujuk dahulu.” Salah seorang kemudian datang pula dan membujuk supaya si Kara dibawa ke Standur, “Mon bisa ke Standur, di sana hidup salah seorang tokang tapa[13], yang hanya mengabdikan hidupnya untuk mengobati orang-orang sakit berat, barangkali tangkep”.

***

Nemor berkepanjangan, tentu membuat segala usaha di kampung seperti senyap seketika. Ladang, sawah, pertanian dan perkebunan merosot, tembakau pun yang biasa ditanam hanya akan tampak berdaun dalupang, kecil-kecil dan kurus. Sehingga tak ada yang berani bertaruh dengan untung-ruginya. Mereka lebih percaya mosem ini lebih sebagai bhala[14]. Bahkan hari ke hari, ketika penyakit yang diderita Kara tak juga menemui tanda jelas dan kesembuhan.

Pelan-pelan bisik mengenai “nemorkara” mulai terbetik dari mulut ke mulut.

“Penyakit Kara penyebabnya!  Kita ingat sebelum-sebelumnya, tak pernah terjadi mosem panjang yang malaeb[15] seperti ini!”

Dari bisik-bisik tetangga inilah sebenarnya pertama kali yang membuat sebagian banyak orang pergi meninggalkan Kara, termasuk sebagian famili dekatnya sendiri. Prasangka ini yang mengungkit-ungkit kembali masa lalu yang sudah hampir lama tertimbun, sebuah kesuraman pandang tak pasti bagi istrinya. Setelah 7 tahun dilampaui dengan banyak keharmonisan dan kesetiaan, yang barangkali hal itu memang sulit dibayangkan mertuanya sendiri sekali pun.

Nurjannah seperti perempuan lugu dalam pandangan mereka. Sementara ibu Kara sendiri juga sudah terlalu tua, tak mampu lagi bekerja. Batuk, asma, sok sesekali menyerangnya. Kara sendiri hanya anak satu-satunya, bapaknya sudah lama mati sejak dia kecil. Di rumah itu, mereka tinggal berlima, juga dengan kedua anak Kara yang masih kecil-kecil. Kini Nurjannahlah yang menjaga semuanya, dengan hasil usahanya yang masih tersisa dengan buah-buah kelapa dan gula merah di belakang rumahnya.

Translate »