Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

Semenjak sang suami sakit, rasa nyeri manakah yang tidak dia tampung. Hanya saja dia selalu menepisnya. Saat orang-orang di sekitarnya mulai tak peduli, dan banyak menggunjing masa lalu Kara. Mereka menganggap penyakit itu lebih serupa kutukan untuk hidup Kara, sehingga tak ada obat apa pun lagi yang bisa menyembuhkannya.

“Kami sudah jalan ke mana-mana, tapi sama sekali tak pernah ada tanda jelas mengenai penyakitnya!”

“Dari pada hanya ikut menimpa kami pula nantinya, kami menyerah!”

Haji Salam, satu-satunya haji di kampung itu, ikut menengahi, “Ini tanggung jawab kita bersama saudara-saudara, kita sesama tetangga bersaudara, harus saling membantu, gotong-royong!”

“Tapi Pak Haji, penyakit ini sudah dicarikan tambha[16] ke mana-mana,”

“Lagian tidak ada yang pernah berhasil,”

“Nama penyakitnya saja tidak pernah jelas, bagaimana sembuhnya?!”

“Sudah, sudah, yang penting kita semua terus berusaha, bukan?”

Semua diam. Istri dan ibu Kara tak sanggup berucap apa pun lagi. Mereka terlihat pasrah. Begitu pun kedua anaknya selalu menjerit dan menangis. Tubuh Kara tinggal tulang berkulit sebatangkara. Hari ke hari, tubuhnya makin tak bergerak. Ia harus selalu dipaksa agar ada minuman yang bisa menyerapi tubuhnya, sebab makanan pun sudah tak mampu masuk. Berbagai ramuan, obat, sasaji, menumpuk di lincak. Sudah terlalu banyak, ramuan yang satu belum habis, ramuan dan obat lain sudah keburu datang. Terus begitu. Tapi semuanya kini mulai dibiarin. Selain karena tak ada mujarobnya, mulut Kara juga hanya mampu menyerap aeng ghulha[17] yang biasa dibuat ibunya sejak kecil. Dalam ceritanya, setiap kali Kara mau tidur, ia selalu menangis meminta dibuatin minuman ini, dan dengan air ini pula dia biasa minum setiap kali makan.

***

Tiga bulan berlalu. Ketika semua orang meninggalkannya dan keadaan kembali seperti biasa, mengembala sapi ke sisa-sisa rumput kering di pematang. Tinggal bisik-bisik nemorkara menyebar ke sana-kemari. Pikiran mereka seolah dikuasai tanda kurang baik, apalagi sejak ada isyarat dari Keae Ansor, bahwa ada seorang yang terlalu banyak dosa di kampung itu, sehingga mengakibatkan hujan akan sulit turun, segala usaha dan pertanian kurang menguntungkan, selain itu, isyaratnya lagi mengatakan, bahwa orang itu akan kena kutukan sepanjang hidupnya, yang satu-satunya obat penyembuhnya hanya didapat dari tangan ibunya sendiri.

“Apa aku bilang, benarkan, itu pasti si Kara!” gunjing dan bual orang-orang.

“Kalau begitu, kita bilang saja ke keluarganya!” timpal yang lain.

Walau sebenarnya sudah banyak yang tak terlalu percaya pada penyembuhan Kara, akibat usaha yang mereka cari selama ini tak kunjung berhasil. Mereka toh masih menaruh hati pada ke karismatik Keae Batu Ampar itu, apalagi sudah banyak bukti kehebatan dan kewaliannya, hanya saja beliau luput dari perhatian selama ini. Mungkin benar adanya nemorkara. Keadaan sudah terlalu laeb. Air terkeruk habis, buat minum saja sudah susah, apalagi buat mandi dan nyassa[18].

***

Malam harinya mendengar dabu[19] Keae itu, ibu Kara pun menjerit, “Tidak mungkin anakku kena kutukan, tidak mungkin…!”

Translate »