Friday, May 22, 2026
Home > Literasi > Cerita > NEMORKARA¹

NEMORKARA¹

NEMORKARA

“Dia sudah tak seperti dulu lagi sekarang, dia sudah insaf….” Istrinya hanya diam layu, wajahnya kuyup. Tak berdaya. Apalagi sejak dari kemarin malam tubuh suaminya semakin panas. Matanya seperti menerawang dan tak berkedip lagi. Dalam keadaan lemah, demi mengetahui bisik-bisik itu lagi, sore harinya Nurjannah segera mendatangi Keae Ansor.

“Sebenarnya penyakit apa yang menimpa suami saya, Ke?”

“Kenapa sampai sekarang tak juga sembuh?” Tanya Nurjanah. Keae Ansor menggeleng, ada sesuatu yang ganjil dalam perasaannya, “Maaf na’ cebbhing[20], penyakit Na’ Kara hanya mampu diobati oleh ibunya sendiri!”

“Maksud Keae..?”

“Na’ Kara harus diberi aeng sosona embu’na thibi,”’[21]

“Air susu ibunya?!”

“Ya, hanya itu satu-satunya jalan perantara dia sembuh,”

“Kalau tidak?”

“Kalau tidak bagaimana Keae..?”

“Tapi itulah, jalan satu-satunya bhing,”

            “Tapi, bagaimana mungkin itu Keae, ibu sudah terlalu tua dan sepuh?”

“Na’ Kara harus tetap menjalani kodratnya, menempuh hisab-lakunya,”

“Menempuh kodrat, hisab laku Keae?”

“Firasatnya begitu bhing, dia harus mencicipi kembali air susu ibunya sebagaimana dulu dia bayi, agar dia mengerti tanduk-lakunya,”

“Saya semakin tak mengerti Keae…?”

“Sudah, pulanglah kamu, sampaikan nubuat ini pada ibunya.”

***

Tanpa menunggu pagi, setelah kepulangannya, Nurjannah pun langsung bercerita pesan-pesan Keae. Lagi-lagi ibunya menjerit, “Aku sudah mengampunimu Na’…, Ma’ sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau sakit-sakitan bahkan, ma’ juga selalu mengingatkanmu.” Istrinya turut terisak. Tak pernah mengerti, jika kemudian ibunya tidak bercerita mengenai asal hidup Kara selama ini, bahkan jauh sebelum mereka berdua menikah.

“Maafkan ibu na’, menyembunyikan ini darimu. Bahkan bukan tidak mungkin sebenarnya bila engkau ingin mencari jawaban apa yang sebenarnya dilakukannya di luar, tapi engkau begitu setia menjadi seorang istri.”

“Sebenarnya, benar apa yang dikata orang-orang selama ini tentangnya. Dia lahir dari rahim ma’, tapi tak pernah sekali pun dia mendengar nasehat, menyadari bahwa Mak adalah ibunya sendiri. Jika tidak karena Keae, Ma’ mungkin tak bisa menyampaikan ini, melihat cintamu yang begitu besar, Ma’ terkadang jadi malu. Sangat malu sekali….”

“Tahukah kamu bhing, ketika dia kecil sukanya minta minum air gula pasir, tapi sekarang, saat semua terlambat, saat semuanya telah tua dan rambut Ma’ melilit putih, dia malah meminta Ma’ mengeluarkan sumber mata air berupa susu dari dada ini. Semua itu tidak mungkin…, tidak mungkin bhing!” Sang Ibu terduduk, tubuh tuanya tersandar di lincak, “Dia hanya semakin membuatku sesak saja!”

Translate »