Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di Bawah Purnama

Tarni, dengan muka antara hitam dan merah, menyodorkan singkong yang telah matang itu ke mulut adiknya. Adiknya menggeleng-gelengkan kepala, menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Aku ingin jadi penari, Mbak saja yang makan, suara itu terdengar keras di telinga Tarni.

Tarni terus menyodorkan singkong itu hingga adiknya, yang terus-menerus menggeleng, terdesak dan tersungkur. Ia dengar suara adiknya: Mbak nakal, sengaja ingin aku gagal! Tarni meneriakkan “kirik sambil melempar singkong itu ke dada adiknya dan beringsut pulang.

Nurani mengibas-kibaskan bajunya dari bercak singkong bakar. Ia lihat singkong yang jatuh ke tanah. Sedikit asap masih mengepul dari daging singkong yang membuka, bau harum menguar darinya. Rasa lapar kembali ke dalam perutnya. Ia ambil singkong itu, mendekatkan ke mulutnya, dan menelan ludah.

***

“Kalau tubuhku ambruk sebelum sampur sampai kepada salah satu cucuku di akhir tarian, kau harus terus menabuh kecrek, memberikan aba-aba untuk terus menabuh gamelan kepada para nayaga. Tak usah hiraukan keadaanku. Jangan sampai ada yang mendekatiku sampai tarian selesai. Dia yang menyelesaikan tarian dialah yang terpilih. Kalau dua-duanya berhasil sampai akhir, jilatilah bagian dalam topengnya, yang terpilih adalah yang paling asin di bagian matanya.”

Demikianlah pesan terakhir Sawitri kepada Dalban ketika tadi siang merasa telah mendapatkan wangsit. Ia meminta anaknya memanggil dan mengumpulkan para penabuh gamelan yang tersebar di kampungnya dan kampung sebelah. Malam ini akan jelas siapa yang menjadi pewaris. Dalban tak tahu mengapa ibunya memilih tarian Klana Bandopati yang menceritakan tentang Rahwana yang urakan, pemabuk, dan segala sifat angkara lainnya, untuk ritual terakhir. Ia pun hanya menurut, dan meminta para penabuh memainkan gonjing yang kini sedang mengalun.

Sawitri memejamkan mata. Tangannya gemulai mengikuti irama tetabuhan. Matanya membuka bersamaan badannya digoyangkan ke kiri dan ke kanan, melenggak ke belakang dan melenggok ke depan. Dia memutar tubuhnya, melakukan galeyong dengan menghuyungkan setengah badannya seolah ingin ambruk. Di sela gerakan itu, Sawitri beberapa kali membanting tangannya di udara, sebelum kembali melakukan galeyong lagi. Seluruh gerakan itu diikuti dengan tekun oleh kedua cucunya.

Dalban mengalihkan pandangan dari ibunya yang tengah menari. Ia sungguh tak tega bila melihat ibunya ambruk saat galeyong. Dilihatnya sekeliling, para tetangga yang menonton penuh penasaran, langit yang terang oleh bintang dan purnama, dan suasan makin terang dengan liukan api yang dipacak pada bambu.

Translate »