Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di Bawah Purnama

Sawitri kembali pada posisi awal, kedua cucunya kembali pula pada posisi semula. Mereka tak mengikuti gerakan neneknya yang sedikit berputar dan berjalan ke arah kotak hitam. Mereka duduk sila di depan topeng berbungkus kain merah yang masing-masing diletakkan di depan mereka.

Sementara Sawitri duduk sila di depan kotak hitam dengan kepala menunduk. Beberapa jenak ia sudah bangkit lagi, menaruh kaki kanannya di atas kotak hitam hingga beberapa menit kemudian ia kembali berputar dengan tangan telah memegang topeng yang masih dibalut kain merah. Kedua cucunya mengambil topeng dan mulai kembali meniru setiap gerakannya.

Kaki kanan mereka diangkat setengah badan sembari menyeblakkan sampur di pinggang ke udara, sementara kaki kiri menopang di tanah. Mereka tengah dalam posisi gantung sikil, tubuh bergoyang dengan satu kaki sebagai pijakan. Sementara topeng digenggam di atas lutut kaki yang diangkat.

Pandangan Dalban kembali kepada ibunya yang kini berdiri dengan satu kaki. Adakah ibunya akan jatuh sekarang?

Tak begitu lama, kedua kaki mereka kembali menjejak tanah, perlahan topeng yang dibungkus itu dibuka dan mereka kenakan. Kain yang jadi bungkus mereka mainkan sebentar, sebelum dibuang dan mereka telah menari sebagai Rahwana.

Dalban terus menabuh kecrek sementara hatinya menduga-duga apakah ibunya akan berhasil menyelesaikan ritual hingga akhir? Apakah benar Tarni yang akan menerima sampur karena tadi siang Nurani pulang dengan baju berbau singkong bakar yang mungkin habis dimakannya hingga gugur puasanya?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk sampai Sawitri lunglai, terduduk, dan ambruk, tapi tak satu pun dari penonton atau penabuh gamelan yang menghiraukan. Mata mereka justru tertuju pada dua bocah kecil yang terus menari. Suara tabuhan gamelan justru makin keras seolah mengalirkan seluruh emosi dan tenaga para nayaga pada pukulan.

Mata Dalban mengembun, ia tahu ibunya telah wafat, tapi ia tak boleh berhenti. Ia harus tetap menabuh kecrek sambil memerhatikan siapakah di antara kedua putrinya yang tahan sampai ritual selesai atau ada salah satu dari keduanya yang berhenti dan, karena rasa sayang, mendekati tubuh neneknya yang tak bergerak lagi.

Sementara di atas tikar pandan, mereka, dua gadis kecil itu, terus menjelma Rahwana dalam mabuk keangkaramurkaan. Di balik topeng yang dikenakan, seorang dari mereka telah mengerti neneknya telah mendiang, tapi tak kuasa menghentikan tarian sebab tubuhnya telah dikendalikan, dan ia hanya bisa mengucurkan air mata yang paling deras di malam itu.

Translate »