Thursday, April 16, 2026
Home > Literasi > Cerita > Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di bawah Purnama

Perempuan yang Paling Menangis di Bawah Purnama

Namun, entah dengan merapal mantra apa, sang kepala sekolah malah dibuat tunduk oleh Sawitri. Kepala sekolah pamit pulang dengan mengatakan: kita butuh pewaris yang tepat, dan sekolah hanya bisa mendukung, kapan pun anak-anak itu masuk sekolah tidak jadi masalah.

***

Semenjak menjalankan ritual, Nurani gandrung sekali bermain dan selalu mengalahkan kakaknya serta lawan-lawannya dalam setiap permainan. Dalam lompat karet, lompatannya semakin tinggi dan tak pernah menyentuh karet yang dibentangkan meskipun diulur hingga satu lengan di atas kepala lawannya. Ia tak pernah menjadi penjaga garis lebih dari satu menit saat bermain slodor karena larinya bertambah cepat dan gesit. Ia juga makin tangkas saat bermain glatik, dengan memukul dan menerbangkan kayu hingga jauh. Dan dalam bermain engklek, Nurani seringkali menyelesaikan permainan dalam satu putaran dari petak ke petak, tanpa memberi lawannya kesempatan untuk bermain.

Karena keasyikan bermain, siang itu Nurani tampak kelelahan, sementara di hari itu mereka sedang diharuskan berpuasa. Saat pulang sekolah, sebagaimana biasanya mereka pulang bersama—sejak kunjungan kepala sekolah ke rumah—Nurani terus-menerus memegang perutnya dengan wajah mengkerut. Sesekali perutnya bersuara keroncongan. Mukanya terlihat pasi dan gerak tubuhnya demikian lemas. Nurani beberapa kali duduk sebentar sebelum melanjutkan berjalan pulang.

Tarni yang tahu adiknya kelelahan dan kesulitan menahan lapar segera menggendongnya ke kebun singkong.

Setelah menyandarkan adiknya di pohon mangga yang ada di tepi kebun, Tarni mencabut salah satu batang pohon singkong lalu mengumpulkan reranting dan daun-daun kering. Ia ambil kaca pembesar mainan dari tasnya yang dibelinya pada pedagang di sekolahnya yang menggelar lapak mainan alat kerja orang dewasa, seperti suntikan, masker, kacamata las, dan sejenisnya. Ia fokuskan cahaya matahari di selembar daun kering. Sangat perlahan api menyala. Ia sulut tumpukan reranting dan daunan kering dengan api yang membara. Ketika nyala membesar, mereka menaruh singkong yang telah dipatahkan dari batangnya dan dibersihkan seperlunya. Mereka saling menatap dan tersenyum, membayangkan betapa pulen singkong itu ketika matang.

Bulir keringat mengalur di kening Tarni yang berusaha membalik singkong dengan pelepah daun pisang. Nurani melindungi hidungnya dari asap. Ia mengendap ke arah kakaknya dan berbisik; aku sudah tidak lapar. Kakaknya melotot, dan berkata: tanggung, ini singkong sebentar lagi matang dan kamu bisa makan. Nurani hendak menyebut nama neneknya, tapi keburu mulutnya ditutup telapak tangan kakaknya. Mereka membisu sampai singkong itu matang.

Translate »