Sawitri, nenek mereka, akan menginjak-injak badan mereka dengan tenang dan tekun meskipun keduanya mengisak sepanjang malam. Ketika kaki Sawitri sudah sejengkal ada di atas punggung—ritual itu senantiasa diawali dari punggung lalu ke atas kepala dan perlahan-lahan turun hingga kaki, dengan injakan terlama ada pada kedua lengan—tubuh mereka mendadak kaku. Dan mulut, selebar apa pun ternganga, hanya dapat mengeluarkan suara perih yang lirih bila kaki itu telah menapak di punggung.
Sawitri tak pernah peduli pada tangisan dan rintihan cucunya. Ia juga tak menaruh acuh pada keluhan anak dan menantunya yang merajuk agar menghentikan ritual-ritual yang dapat membunuh kedua cucunya itu. Baginya, sudah menjadi kewajiban untuk menginjak-injak tubuh cucunya dan mengajarkan mereka menanggung perasaan sedih dan sakit melalui segala ritual dan tirakat. Injakan kakinya akan menguatkan tulang, melunakkan otot, dan melenturkan urat menari di tubuh mereka. Sementara laku tirakat beragam jenis puasa akan melatih kesabaran menanggung derita hingga mampu mematangkan batin sebelum mereka berurusan dengan darah kotor dan berhadapan dengan lelaki.
“Sedelat maning, Nok.” (Sebentar lagi, Dik)
Demikian Tarni biasa menenangkan hati adiknya saat merintih menahan injakan kaki Sawitri, seolah-olah segalanya akan segera berakhir. Disabar-sabarkannya pula hatinya sendiri. Ditahan-tahannya air matanya agar tak rebas. Kalau adiknya terus merintih dan matanya telah basah, kerap kali ia harus mengulang-ulang tembang mantra sembari mengusap air mata adiknya.
Lunga lunga lara
larane ning segara.
(pergi pergilah sakit
sakitnya ke samudera)
***
Sejak menjalankan ritual, tak ada yang berubah dari Tarni, ia masih gadis kecil dengan tubuh liat dan bugar. Sebaliknya, Nurani tampak bertambah kurus dengan wajah kian pucat. Melihat perbedaan itu, juga ketenangan yang ditunjukkan anak sulungnya, Dalban telah yakin kalau Tarni yang kelak mewarisi Tari Topeng Losari. Ketika Dalban menyampaikan pendapatnya itu dengan harapan seluruh ritual dihentikan sebab telah jelas siapa yang terpilih, Sawitri teguh akan tetap melanjutkan sampai mendapatkan wangsit siapa pewaris sesungguhnya.
Berhadapan dengan sikap keras kepala ibunya, Dalban harus terus menenangkan istrinya yang kerap menangis sebab tak tega melihat anak-anak mereka terus menderita. Apalagi bila melihat si bontot, bungsu, yang makin kurus dan pucat. Belum lagi bila mengingat sekolah—Tarni kelas enam sementara Nurani baru kelas tiga—yang pernah beberapa pekan tidak masuk hingga kepala sekolah datang ke rumah.
