Sebuah biduk tak lagi memiliki arah karena nahkoda melupakan peta perjalanannya, tertinggal saat mencicipi semerbak aroma kopi tetangga yang sangat jauh. Peta tertinggal, nahkoda kebingungungan. Perjalanan itu menjadi tak lagi jelas arah dan tujuannya. Tiga penumpang itu tak lagi percaya. Mereka minta segera turun di pelabuhan terdekat yang dapat disinggahi. Penumpang tak mau berlayar tanpa tahu kapan harus menepi.
“Perjalanan konyol macam apa ini,” kata seorang penumpang yang geram melihat nahkoda termangu di atas singgasananya.
“Meski kami ini hanya penumpang, kami punya hak untuk menentukan arah mana yang hendak kami tuju. Kami naik perahu ini karena kami pikir Anda layak dipercaya mengantarkan kami ke tempat terakhir sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat,” gerutu seorang penumpang yang kesal saat nahkoda mulai bingung menentukan arah.
Para penumpang terus berkesah. Dengan egonya, sang nahkoda tak menerima ocehan penumpangnya.
“Ah, tahu apa kau tentang perjalanan. Tidurlah saja, tak perlu kau tengok kiri kanan. Membawa biduk ini adalah urusanku. Kau hanya penumpang, tak perlu mengaturku! Jika kau tak senang, turunlah sekarang! Sebab aku masih ingin berlayar sesukaku. Tak suka aku berlayar dengan penumpang cerewet macam kau ini,” sanggah si nahkoda.
“Apa? Kau bilang aku cerewet? Aku bukan cerewet, aku hanya mengingatkanmu jika kau telah keluar dari jalur yang hendak kita tuju. Waktu keluar dari dermaga, biduk ini hendak turun di surabaya. Mengapa malah hendak ke Priok? Padahal kau tahu bila tak ada penumpangmu yang turun di sana. Jika hendak kau ke Priok, turunkanlah kami dulu! Jangan kau bawa serta! Karena kami tak ingin penat dalam perjalanan yang bukan tujuan kami,” ucap penumpang.
“Oh, jadi kau menegurku? Tak suka dengan caraku? Aku memang ingin ke Priok. Aku terlupa jika kau dan anak-anakmu hendak ke Perak. Tapi tak masalah kuturunkan kau di Priok saja. Kau bisa naik kereta api dari Stasiun Senen ke Surabaya. Atau naik bis Patas dari terminal. Kau bisa turun di Terminal Purabaya atau Bungurasih. Tapi terserahlah kau mau naik apa. Pastinya aku tak akan kembali ke Tanjung Perak. Kasihan calon penumpangku sudah lama menunggu di Priok,” ujar nahkoda yang tak mau kembali pada tujuan semula.
“Ok baiklah. Aku ikuti katamu. Karena kami hanyalah penumpang, tak perlu kau risaukan dengan cara apa kami hendak melanjutkan perjalanan. Pastinya, aku akan membawa anak-anakku selamat hingga tujuan. Silakan lanjutkan perjalananmu! Jangan membuat calon penumpangmu lama menunggu! Pastikan kau berlayar di jalur yang benar! Jangan salah arah lagi karena lautan ini tak selamanya teduh. Gelombang dan badai bisa saja datang menyapa. Jika kau berlayar tanpa peta lagi, aku takut kau akan membawa calon penumpang ke tempat yang tak ingin mereka tuju. Atau bisa saja di tengah keraguanmu itu, gelombang dan badai datang menyapu. Awas, lautan ini buas! Dia bisa memangsa siapa saja yang tak tahu cara berlayar. Apalagi nahkoda yang tak teguh pada tujuan sepertimu. Lautan hanya terkalahkan oleh mereka yang teguh pada prinsip dan fokus pada tujuan yang hendak dituju. Riak ombak, gelombang, dan badai adalah serba-serbi yang harus dilewati oleh mereka yang mengarungi samudera. Bahtera akan tetap melaju jika nahkoda tak ragu,”jawab si penumpang.
